Perubahan cara masyarakat mengakses hiburan melalui platform digital turut memengaruhi pola kerja seniman tradisional, termasuk dalang wayang golek di Jawa Barat. Adaptasi terhadap teknologi kini menjadi bagian dari aktivitas produksi dan distribusi karya seni yang tidak terpisahkan dari panggung pertunjukan.
Pantauan di sejumlah pertunjukan wayang golek di Jawa Barat, dokumentasi pertunjukan saat ini tidak hanya dilakukan untuk arsip internal, tetapi juga disiapkan langsung untuk distribusi ke platform digital seperti YouTube dan TikTok.
Di kediaman Dadan Sunandar Sunarya di Bandung, aktivitas produksi konten digital terlihat menjadi bagian dari rutinitas harian. Peralatan perekaman sederhana digunakan untuk mendukung publikasi karya ke media sosial, sementara interaksi dengan penonton daring berlangsung melalui perangkat komunikasi yang aktif.
Adaptasi Seniman di Tengah Perubahan Media
Dadan menegaskan falsafah Sunda ngindung ka waktu, mibapa ka zaman sebagai pedoman dalam menghadapi perubahan zaman. Menurutnya, seniman perlu mengikuti perkembangan teknologi tanpa meninggalkan akar budaya.
“Kalau tidak ikut zaman, ya bisa tertinggal,” kata Dadan singkat.
Sebagai putra mendiang maestro wayang golek Asep Sunandar Sunarya, Dadan melanjutkan tradisi pedalangan keluarga sekaligus memperluas jangkauan penonton melalui platform digital.
Perubahan Pola Distribusi Karya
Media sosial mengubah pola distribusi karya seni tradisional dari sistem berbasis perantara menjadi langsung ke publik. Seniman kini dapat memproduksi, merekam, dan mengunggah karya secara mandiri tanpa melalui jalur distribusi konvensional.
Namun, perubahan tersebut juga memunculkan penyesuaian dalam membaca respons audiens digital. Perbedaan antara penonton langsung dan penonton daring kerap menghasilkan interpretasi yang berbeda terhadap materi pertunjukan.
“Kadang di YouTube itu ada yang komentar, ‘ini lagi, ini lagi’… padahal konteksnya berbeda,” ujar Dadan.
Dadan juga memanfaatkan berbagai platform seperti YouTube, Facebook, dan TikTok untuk mendistribusikan karya sekaligus berinteraksi dengan penonton.
“Saya juga bikin konten di YouTube, Facebook, TikTok,” kata dia.
Tantangan Seniman di Era Penonton Daring

Perubahan menuju konsumsi digital juga memunculkan tantangan baru bagi seniman pertunjukan, khususnya terkait ekspektasi penonton yang menginginkan variasi konten dalam format digital.
Di sejumlah daerah di Jawa Barat, pola dokumentasi pertunjukan kini telah disesuaikan sejak awal agar dapat digunakan untuk kebutuhan publikasi digital, bukan sekadar arsip pertunjukan.
Penyesuaian Seniman dalam Ekosistem Digital
Adaptasi teknologi telah menjadi bagian dari mekanisme kerja seni pertunjukan tradisional, termasuk wayang golek, dalam proses produksi dan distribusi karya. Seniman kini tidak hanya berhadapan dengan penonton di panggung, tetapi juga audiens digital dengan pola konsumsi yang berbeda.
Kemampuan memahami karakter platform menjadi faktor penting dalam memperluas jangkauan karya seni tradisi di ruang publik modern.
Baca juga berita terbaru seputar Jawa Barat, budaya Sunda, tokoh daerah, dan isu regional lainnya di rubrik Regional Aksi.me.
Penulis: Yosie Wijaya
Related posts:
Transisi KTP Digital di Kota Bogor Terkendala Infrastruktur dan Kebiasaan Warga
Kota Banjar Disorot: Banjir dan Investasi Jadi Tantangan Arah Pembangunan
Cara Daftar IKD Online: Syarat, Aktivasi, dan Biaya
TPA Sarimukti Tembus 1.700 Ton per Hari, Tekanan Sistem Pengelolaan Jabar Meningkat
NU Didorong Bangun Budaya Riset, Pesantren Tak Cukup Hanya Transfer Ilmu
Silaturahmi Milangkala ke-84 Abah Alam, Momentum Merawat Tradisi dan Memperkuat Identitas Budaya

Yosie Wijaya merupakan jurnalis Aksi.me yang bergabung sejak 2019. Berbekal pengalaman di media hiburan dan media digital, ia fokus menulis isu nasional, budaya, hiburan, dan gaya hidup dengan mengutamakan pelaporan berbasis fakta, verifikasi, dan konteks yang mudah dipahami pembaca.






