Penyesuaian harga solar non-subsidi di sejumlah badan usaha bahan bakar minyak (BBM) resmi berlaku sejak awal periode penetapan harga terbaru oleh PT Pertamina Patra Niaga dan operator swasta. Penurunan ini menjadi salah satu koreksi terbesar dalam beberapa bulan terakhir di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Berdasarkan pantauan di beberapa SPBU di Jakarta, perubahan harga langsung tercermin pada papan harga digital dan memengaruhi struktur biaya operasional sektor transportasi serta industri berbasis diesel sejak penyesuaian diberlakukan.
Penurunan Harga Diesel Capai Hingga 11,5 Persen
PT Pertamina Patra Niaga menurunkan harga Dexlite sebesar 11,5 persen menjadi Rp23.000 per liter dari sebelumnya Rp26.000 per liter. Sementara Pertamina Dex turun menjadi Rp24.800 per liter dari Rp27.900 per liter.
Penyesuaian serupa juga dilakukan oleh operator swasta. Shell menurunkan harga Shell V-Power Diesel menjadi Rp24.490 per liter dari Rp30.890 per liter. BP-AKR turut memangkas harga BP Ultimate Diesel menjadi Rp25.060 per liter dari sebelumnya Rp29.890 per liter.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga dilakukan secara berkala mengikuti formula harga minyak dunia dan kondisi pasar energi global.
“Penyesuaian ini merupakan bagian dari mekanisme pasar yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak mentah internasional serta nilai tukar,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Dampak Langsung Terlihat pada Sektor Industri dan Transportasi
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Saleh Abdurrahman, menilai penurunan harga solar non-subsidi memberikan ruang penyesuaian biaya bagi sektor industri dan transportasi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap konsumsi BBM diesel.
Menurut dia, kedua sektor tersebut merupakan pengguna utama bahan bakar diesel untuk operasional harian, sehingga perubahan harga langsung tercermin pada struktur biaya produksi dan distribusi.
“Ketika harga turun dan stabil, maka efisiensi biaya operasional di sektor transportasi dan industri dapat mulai terbentuk kembali,” ujarnya.
Ia juga menyoroti bahwa selisih harga antara BBM bersubsidi dan non-subsidi kini lebih sempit, yang berpotensi memengaruhi pola konsumsi energi di lapangan.
Perbandingan Harga Solar Non-Subsidi
Penyesuaian harga BBM diesel di beberapa operator energi adalah sebagai berikut:
| Produk BBM | Harga Sebelumnya | Harga Baru | Perubahan (Penurunan) |
|---|---|---|---|
| Dexlite | Rp26.000/liter | Rp23.000/liter | Rp3.000 |
| Pertamina Dex | Rp27.900/liter | Rp24.800/liter | Rp3.100 |
| Shell V-Power Diesel | Rp30.890/liter | Rp24.490/liter | Rp6.400 |
| BP Ultimate Diesel | Rp29.890/liter | Rp25.060/liter | Rp4.830 |
Tabel ini menunjukkan penyesuaian seragam di seluruh operator utama, yang mengindikasikan bahwa faktor global menjadi variabel dominan dalam pembentukan harga energi domestik.
Harga Minyak Global Masih Menjadi Variabel Utama

Praktisi migas Hadi Ismoyo menyebut harga BBM non-subsidi sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah dunia yang saat ini berada pada kisaran US$90 hingga US$110 per barel.
Menurutnya, ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta dinamika kebijakan produksi negara produsen masih menjadi faktor utama yang menjaga volatilitas harga energi global.
Sementara itu, Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memperkirakan harga minyak berpotensi bergerak pada kisaran US$85 hingga US$90 per barel dalam jangka menengah, dengan kecenderungan stabil namun tetap sensitif terhadap risiko geopolitik.
Ia menambahkan bahwa penurunan harga BBM memberikan ruang efisiensi bagi sektor riil, namun dampaknya terhadap inflasi nasional masih terbatas karena dipengaruhi faktor lain seperti nilai tukar rupiah dan biaya logistik domestik.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melonjak, Beban Subsidi Energi Berpotensi Naik
Prospek Harga Energi Masih Terkait Ketidakpastian Global
Pergerakan harga energi pada semester II/2026 diperkirakan masih akan mengikuti dinamika pasokan dan permintaan global, termasuk kebijakan produksi negara anggota OPEC+ serta perkembangan ekonomi global utama.
Dengan kondisi tersebut, tren penurunan harga BBM non-subsidi di dalam negeri masih bersifat mengikuti mekanisme pasar internasional (market driven) dan belum menunjukkan pola penurunan jangka panjang yang stabil.
Pelaku pasar masih akan mencermati arah kebijakan energi global dalam beberapa bulan ke depan untuk menentukan keberlanjutan tren harga saat ini.
Simak Ulasan Lainnya: Dapatkan analisis kebijakan publik, tren pasar, dan perkembangan makroekonomi terbaru lainnya di halaman Kategori Ekonomi aksi.me.
Penulis: Ken Zanindha
Related posts:
Prabowo Sebut Program Makan Bergizi Gratis Mulai Gerakkan Ekonomi Desa
SBY Soroti Tekanan di Pasar Modal dan Nilai Tukar, Ajak Semua Pihak Jaga Kepercayaan Ekonomi
Harga Minyak Dunia Melonjak, Beban Subsidi Energi Berpotensi Naik
BPJS Ketenagakerjaan Gandeng Pemda Perluas Perlindungan Pekerja, Target UCJ Didorong Lebih Cepat
Anggaran MBG Dipangkas Rp67 Triliun, Pemerintah Pastikan Penerima Tak Berkurang
Prabowo Sentralisasi Ekspor Batu Bara dan Sawit Melalui BUMN

Ken Zanindha adalah jurnalis Aksi.me yang berfokus pada liputan ekonomi, industri, dan kebijakan publik. Berbekal latar belakang pendidikan komunikasi dari STIKOM Bandung serta pengalaman sebagai reporter di sejumlah televisi lokal, ia menulis berita dan analisis yang mengutamakan akurasi, verifikasi, dan relevansi bagi pembaca.






