Peristiwa walkout yang dilakukan oleh mantan Wakil Wali Kota Akhmad Dimyati saat sambutan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada peringatan hari jadi Kota Banjar ke-23 menjadi topik hangat di ruang publik. Tokoh masyarakat dan aktivis senior Eka Santosa turut angkat bicara, menilai kejadian tersebut bukan sekadar gestur spontan, melainkan refleksi dinamika politik dan sensitivitas sejarah daerah.
Momentum peringatan ulang tahun kota seharusnya menjadi ruang refleksi kolektif atas perjalanan pembangunan daerah. Namun insiden tersebut justru membuka diskursus baru tentang interpretasi sejarah, peran tokoh, serta sensitivitas elite terhadap narasi publik.
Isi
ToggleKronologi Singkat Peristiwa
Berdasarkan penuturan Eka Santosa, kejadian berlangsung ketika gubernur tengah menyampaikan pidato resmi di hadapan tamu undangan. Di tengah sambutan, Dimyati tiba-tiba berdiri, menggeser kursi, lalu keluar ruangan melewati sisi podium.
Eka menilai bahasa tubuh tersebut menunjukkan ekspresi emosional, bukan sekadar kebutuhan teknis meninggalkan ruangan. Ia bahkan menduga ada ketidaksepahaman terhadap isi pidato gubernur, terutama terkait pernyataan yang dianggap menyinggung sejarah pembentukan kota.
Tak lama setelah acara, Eka menghubungi Dimyati secara langsung untuk meminta klarifikasi. Dari komunikasi tersebut terungkap dua poin keberatan utama.
Dua Alasan Walkout Menurut Versi Internal
Berikut inti keberatan yang disampaikan:
| Poin | Isi Keberatan | Penjelasan |
|---|---|---|
| 1 | Identifikasi kota dengan satu tokoh | Pernyataan gubernur dianggap mengaitkan sejarah kota dengan satu figur tertentu |
| 2 | Penyebutan peran politik pusat | Ada pernyataan terkait kontribusi tokoh nasional yang dinilai kurang akurat |
Menurut Eka, keberatan tersebut bersifat interpretatif dan terkait sensitivitas sejarah lokal, bukan semata persoalan politik praktis.
Sejarah Pembentukan Kota Banjar Menurut Perspektif Pelaku
Eka menegaskan dirinya terlibat langsung dalam proses pembentukan kota sebagai daerah otonom pada era reformasi. Ia saat itu menjabat posisi strategis di DPRD Jawa Barat, sehingga mengetahui detail proses administratif dan politik.
Ia menjelaskan bahwa landasan hukum pembentukan kota berasal dari regulasi otonomi daerah pasca-reformasi. Regulasi tersebut mewajibkan wilayah administratif menentukan status: naik menjadi daerah otonom atau kembali menjadi kecamatan.
Di Jawa Barat kala itu terdapat lima wilayah yang diproses bersamaan, termasuk:
-
Kota Cimahi
-
Kota Depok
-
Kota Tasikmalaya
-
Kota Cilegon
-
Kota Banjar
Proses tersebut tidak mudah. Ada penolakan sebagian pihak, termasuk dari wilayah induk yang khawatir kehilangan daerah strategis.
Dinamika Politik Saat Pembentukan
Eka memaparkan bahwa pembahasan di tingkat provinsi berlangsung alot. Bahkan sempat muncul wacana mengembalikan Banjar menjadi kecamatan. Ia mengklaim saat itu terjadi tekanan politik, demonstrasi, hingga gangguan terhadap sidang legislatif.
Meski demikian, keputusan akhirnya tetap disahkan melalui mekanisme konstitusional. Sidang paripurna tetap digelar walau fasilitas tidak ideal, karena yang menentukan sah tidaknya keputusan adalah kuorum anggota, bukan kondisi gedung.
Menurutnya, keputusan tersebut menjadi titik balik sejarah kota.
Peran Pemerintah Pusat dan Faktor Politik Nasional
Setelah disahkan di tingkat provinsi, usulan pembentukan kota harus melalui persetujuan pusat. Saat itu pemerintahan nasional dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri. Konstelasi politik nasional disebut Eka berpengaruh karena dukungan mayoritas parlemen terhadap program pemekaran daerah.
Ia juga menyinggung nama Agun Gunandjar yang disebut dalam pidato gubernur. Menurutnya, kontribusi tokoh tersebut memang ada, tetapi bukan faktor tunggal penentu terbentuknya kota.
Pernyataan itulah yang diduga menjadi salah satu pemicu keberatan Dimyati.
Analisis Psikologis dan Politik atas Insiden
Secara psikologis, tindakan walkout di acara resmi sering dimaknai sebagai bentuk protes simbolik. Dalam komunikasi politik, gestur nonverbal seperti itu dapat menyampaikan pesan kuat tanpa kata-kata.
Ada tiga kemungkinan makna:
-
Protes terhadap narasi sejarah
-
Ketidaksetujuan terhadap framing pidato
-
Pesan politik kepada publik
Eka menilai reaksi tersebut lebih merupakan ekspresi emosional sesaat, bukan strategi politik terencana.
Paradoks Narasi “Kota Mati”
Salah satu bagian pidato gubernur yang disorot adalah penyebutan Banjar sebagai “kota mati”. Istilah ini menimbulkan kontroversi karena dianggap bertentangan dengan pujian terhadap tokoh tertentu yang dikaitkan dengan kota tersebut.
Eka melihat adanya paradoks narasi:
-
Di satu sisi kota disebut stagnan
-
Di sisi lain tokoh tertentu dipuji sebagai faktor utama keberhasilan
Menurutnya, kontradiksi tersebut menimbulkan kebingungan persepsi publik.
Pentingnya Objektivitas Sejarah Daerah
Eka menekankan bahwa sejarah daerah tidak boleh disederhanakan menjadi kisah satu tokoh. Pembentukan kota merupakan hasil kolaborasi:
-
masyarakat
-
aktivis
-
pemerintah daerah
-
legislatif
-
pemerintah pusat
Ia menilai penyederhanaan narasi sejarah berpotensi memicu konflik interpretasi di masyarakat.
Reaksi Publik dan Dampak Sosial
Peristiwa walkout langsung menjadi perbincangan masyarakat, terutama di media sosial dan komunitas lokal. Banyak warga menilai kejadian tersebut:
-
memperlihatkan sensitivitas elite terhadap sejarah
-
menunjukkan masih adanya rivalitas lama
-
mencerminkan dinamika politik lokal yang hidup
Sebagian warga menganggap kejadian itu wajar dalam demokrasi, sementara yang lain menilai seharusnya acara seremonial dijaga netralitasnya.
Perspektif Demokrasi: Kritik sebagai Hak
Dalam sistem demokrasi, keberatan terhadap pernyataan pejabat publik merupakan hak setiap warga, termasuk mantan pejabat. Namun cara penyampaian kritik sering menjadi sorotan.
Ada dua pendekatan:
| Pendekatan | Karakteristik |
|---|---|
| Formal | Menyampaikan keberatan melalui forum resmi |
| Simbolik | Menunjukkan sikap lewat tindakan |
Walkout termasuk bentuk simbolik. Efeknya biasanya lebih dramatis tetapi rentan disalahartikan.
Dimensi Personal dalam Politik Lokal
Eka mengungkap bahwa dirinya dan wali kota saat ini memiliki hubungan pertemanan lama. Ia menegaskan kehadirannya di acara bukan untuk kepentingan politik, melainkan undangan pribadi.
Hal ini menyoroti realitas politik lokal di Indonesia yang kerap dipengaruhi relasi personal. Dalam banyak kasus, hubungan pertemanan dapat:
-
mempercepat koordinasi
-
mengurangi konflik
-
mempermudah komunikasi informal
Namun juga bisa menimbulkan persepsi keberpihakan.
Banjar Sebagai Kota Transit Strategis
Secara geografis, Banjar memiliki posisi penting sebagai penghubung Jawa Barat dan Jawa Tengah bagian selatan serta jalur menuju destinasi wisata Pangandaran. Sejak era kolonial, kota ini dikenal sebagai titik transit transportasi.
Potensi strategis tersebut menjadi alasan utama dorongan masyarakat agar wilayah ini memiliki status otonom. Status kota dianggap memberi fleksibilitas lebih dalam pembangunan ekonomi dan infrastruktur.
Catatan Historis Perjuangan Masyarakat
Eka menekankan bahwa faktor penentu utama lahirnya kota bukanlah elite, melainkan tekanan aspirasi masyarakat. Ia mengingat peran tokoh lokal, mahasiswa, dan aktivis yang secara konsisten mendorong pemekaran wilayah.
Menurutnya, tanpa dorongan akar rumput, keputusan politik tidak akan pernah terjadi. Pernyataan ini menegaskan prinsip klasik dalam ilmu politik:
legitimasi kebijakan lahir dari tekanan sosial kolektif.
Makna Politik dari Permintaan Maaf
Dalam narasi yang beredar, gubernur disebut telah menyampaikan permintaan maaf melalui pihak tertentu. Jika benar, langkah tersebut dapat dilihat sebagai strategi de-eskalasi konflik.
Dalam praktik komunikasi politik, permintaan maaf publik berfungsi:
-
meredam polemik
-
menjaga stabilitas
-
memulihkan citra
Langkah ini sering dilakukan ketika pernyataan pejabat memicu kontroversi interpretasi.
Pelajaran dari Insiden HUT Banjar
Peristiwa ini memberikan sejumlah pelajaran penting bagi pejabat dan masyarakat:
-
Narasi sejarah harus akurat
-
Bahasa publik figur harus presisi
-
Sensitivitas lokal perlu dipahami
-
Simbol politik memiliki dampak besar
Insiden tersebut menunjukkan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan identitas kolektif yang dijaga masyarakat.
Implikasi Politik Jangka Panjang
Walau tampak sederhana, insiden seremonial seperti ini bisa berdampak jangka panjang. Dalam politik lokal, simbol dan persepsi sering lebih berpengaruh daripada kebijakan teknis.
Jika tidak dikelola dengan baik, polemik narasi sejarah dapat:
-
memecah opini publik
-
memicu polarisasi elite
-
menghambat kolaborasi pembangunan
Namun bila disikapi bijak, peristiwa ini justru bisa menjadi momentum rekonsiliasi sejarah.
Harapan untuk Masa Depan Kota Banjar
Eka menutup pernyataannya dengan harapan agar kota terus berkembang dan tidak lagi mendapat stigma negatif. Ia menegaskan masa depan daerah tidak ditentukan oleh konflik narasi masa lalu, melainkan kolaborasi semua pihak hari ini.
Menurutnya, generasi muda harus memahami sejarah daerah secara utuh agar mampu melanjutkan pembangunan dengan perspektif yang adil dan objektif.
Video Eka Santosa Soroti Aksi Mantan Wali Kota Akhmad Dimyati Walkout Saat KDM Beri Sambutan di HUT Banjar
- Doa Menyambut Ramadhan
- Hasil Sidang Isbat Ramadhan 2026: Pemerintah Tetapkan Awal Puasa 19 Februari
- Marhaban Ya Ramadhan: Sambut Bulan Suci dengan Hati Bersih dan Persiapan Terbaik
- Lebaran 2026: Prediksi Tanggal, Jadwal Libur, Cuti Bersama, dan Info Penting Lengkap
- Doa Niat Puasa Ramadhan
- Niat Puasa Ramadhan Sebulan Penuh
- Niat Mandi Wajib Sebelum Puasa
- Dorong Pertumbuan UMKM, Masjid Agung Bandung Kembali Gelar Ramadan Fest
Kesimpulan
Peristiwa walkout mantan wakil wali kota saat pidato gubernur di peringatan HUT Banjar bukan sekadar kejadian spontan, melainkan refleksi kompleksitas politik lokal, sensitivitas sejarah, dan dinamika relasi elite. Penjelasan Eka Santosa menyoroti pentingnya akurasi narasi sejarah dan penghormatan terhadap kontribusi kolektif masyarakat.
Kontroversi ini sekaligus mengingatkan bahwa simbol, kata-kata, dan gestur dalam ruang publik memiliki makna politik yang kuat. Jika dikelola secara bijak, polemik dapat menjadi sarana pembelajaran demokrasi dan pematangan identitas daerah.
FAQ: Eka Santosa Soroti Aksi Mantan Wali Kota Akhmad Dimyati Walkout Saat KDM Beri Sambutan di HUT Banjar
Apa penyebab utama walkout dalam acara HUT Banjar?
Menurut penjelasan internal, tindakan tersebut dipicu ketidaksetujuan terhadap isi pidato yang dianggap kurang tepat secara historis.
Apakah walkout termasuk pelanggaran etika acara resmi?
Tidak selalu. Walkout merupakan bentuk ekspresi protes simbolik yang sah dalam demokrasi, meski sering menuai kontroversi.
Mengapa sejarah pembentukan kota menjadi isu sensitif?
Karena sejarah menyangkut identitas kolektif masyarakat dan kontribusi banyak pihak, sehingga narasinya harus akurat dan adil.
Apakah kejadian ini berdampak pada pemerintahan daerah?
Secara langsung tidak, tetapi secara persepsi publik bisa memengaruhi citra politik dan hubungan antar elite.
Apa pelajaran penting dari peristiwa ini?
Bahwa komunikasi publik pejabat harus presisi, sensitif terhadap konteks lokal, dan menghargai kompleksitas sejarah daerah.






