Tumpukan sampah kembali terlihat di sejumlah wilayah Bandung Raya dalam beberapa pekan terakhir. Pembatasan ritase pengiriman sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti menyebabkan pengangkutan di sejumlah kawasan permukiman dan pasar mengalami keterlambatan.
Pantauan langsung jurnalis Aksi.me di sejumlah titik di Kota Bandung menunjukkan beberapa tempat pembuangan sementara (TPS) mengalami penumpukan hingga meluber ke badan jalan. Warga juga mulai mengeluhkan bau tidak sedap yang muncul akibat sampah yang belum terangkut.
“Kadang dua sampai tiga hari baru diangkut. Kalau hujan, baunya makin terasa,” kata Dedi (43), warga Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung.
Kondisi serupa beberapa kali terjadi dalam beberapa tahun terakhir ketika kapasitas pengangkutan maupun pembuangan sampah mengalami pembatasan.
Legok Nangka Belum Beroperasi Optimal
Sorotan terhadap pengelolaan sampah datang dari tokoh masyarakat Jawa Barat, Eka Santosa. Menurut dia, persoalan sampah yang terus berulang menunjukkan penanganan jangka panjang belum berjalan sesuai harapan.
Saat diwawancarai reporter TV One, Christanti Yosefa, di kawasan Ekowisata dan Budaya Kabupaten Bandung, Senin (19/5/2026), Eka menyinggung proyek Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legok Nangka yang telah direncanakan sejak sekitar 2010.
Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi pusat pengolahan sampah regional yang melayani Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat. Namun hingga kini, operasional penuh fasilitas tersebut belum terealisasi.
“Publik tentu bertanya hasilnya di mana? Karena persoalan sampah masih terus berulang,” ujar Eka.
Ia juga menyoroti praktik pemilahan sampah yang dinilai belum berjalan konsisten. Menurutnya, sampah yang telah dipilah warga di tingkat rumah tangga kerap kembali tercampur saat proses pengangkutan.
Produksi Sampah Capai 5.000 Ton per Hari

Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) sebelumnya mengakui persoalan sampah menjadi tantangan serius di berbagai daerah. Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala BPLH, Jumhur Hidayat, menyebut banyak pemerintah daerah masih berfokus pada pembuangan akhir dibanding pengurangan sampah dari sumbernya.
Di Bandung Raya, ketergantungan terhadap TPA Sarimukti masih sangat tinggi. Sebagian besar sampah dari Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat dibuang ke lokasi tersebut.
Produksi sampah harian kawasan Bandung Raya diperkirakan mencapai sekitar 5.000 ton per hari. Khusus Kota Bandung, volume sampah harian berada pada kisaran 1.500 hingga 1.800 ton.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung, Darto, mengatakan sebagian besar sampah masih didominasi sisa makanan dan limbah rumah tangga organik yang sebenarnya berpotensi dikurangi melalui pemilahan sejak dari sumber.
Baca Juga: Eka Santosa: TPA Sarimukti Tak Bisa Terus Dipaksakan
Ketergantungan pada Sarimukti Jadi Tantangan
Pembatasan ritase ke TPA Sarimukti menunjukkan tingginya ketergantungan Bandung Raya terhadap satu lokasi pembuangan akhir. Ketika kapasitas pembuangan dibatasi, dampaknya langsung dirasakan hingga tingkat permukiman.
Program pemilahan sampah, pengolahan organik, fasilitas refuse-derived fuel (RDF), serta pengembangan infrastruktur pengolahan regional dinilai menjadi bagian penting untuk mengurangi tekanan terhadap TPA.
Selama kapasitas pengolahan alternatif belum berkembang secara optimal, persoalan penumpukan sampah diperkirakan berpotensi kembali terjadi setiap kali terjadi pembatasan pembuangan di Sarimukti.
Penulis: Rudiawan Setiadarma
Related posts:
Silaturahmi Milangkala ke-84 Abah Alam, Momentum Merawat Tradisi dan Memperkuat Identitas Budaya
BOMA Jawa Barat Anugerahkan Gelar Kehormatan kepada Jaksa Agung, Dorong Penegakan Hukum dan Perlindu...
Transisi KTP Digital di Kota Bogor Terkendala Infrastruktur dan Kebiasaan Warga
Kota Banjar Disorot: Banjir dan Investasi Jadi Tantangan Arah Pembangunan
Eka Santosa Soroti Konsolidasi HKTI Jabar dan Agenda Ketahanan Pangan
NU Didorong Bangun Budaya Riset, Pesantren Tak Cukup Hanya Transfer Ilmu

Rudiawan Setiadarma merupakan jurnalis yang bergabung dengan Aksi sejak 2023. Ia memiliki pengalaman peliputan di sejumlah media dan fokus pada isu pemerintahan, hukum, serta kebijakan publik di tingkat regional dan nasional.






