Gusmus Raksa Jasad: Ketika Terapi Warisan Leluhur Menemukan Tempat di Tengah Pengobatan Modern

Redaksi Keseatan

Updated on:

Dunia terapi tradisional Indonesia kembali mendapat sorotan. Dalam sebuah perbincangan bertema kesehatan dan pengobatan alternatif, Master Adin, pionir Metik Langit Corporation yang berada di bawah naungan GM Terapi Pusat Sumedang, memaparkan secara komprehensif mengenai Gusmus Raksa Jasad, sebuah metode terapi

Di sebuah ruangan sederhana yang dipenuhi aroma minyak herbal dan percakapan pelan para peserta, suasana bakti terapi itu terasa berbeda dari layanan kesehatan pada umumnya. Tidak ada hiruk-pikuk alat medis modern atau antrean administrasi yang kaku. Yang terlihat justru interaksi hangat antara terapis dan warga yang datang dengan harapan sederhana: mencari pemulihan bagi tubuh dan ketenangan bagi pikiran.

Di tengah kegiatan itu, Master Adin—pionir Metik Langit Corporation di bawah naungan GM Terapi Pusat Sumedang—menjelaskan bagaimana Gusmus Raksa Jasad berkembang dari praktik pengobatan turun-temurun menjadi metode terapi yang kini mulai mendapat perhatian lebih luas, termasuk pengakuan negara terhadap nilai budayanya.

Bagi sebagian masyarakat, terapi tradisional sering dianggap sekadar alternatif. Namun di berbagai daerah, pendekatan berbasis kearifan lokal justru tetap bertahan karena memiliki relasi yang dekat dengan kehidupan sosial masyarakat. Di situlah Gusmus Raksa Jasad menemukan ruangnya.

Berangkat dari Tradisi, Bertahan karena Kepercayaan

Menurut Master Adin, Gusmus Raksa Jasad bukan metode yang lahir secara instan. Ia menyebut sistem terapi ini berasal dari jalur keilmuan panjang yang diwariskan lintas generasi.

Nama “Gusmus” sendiri merujuk pada Abuya Agus Muslim, tokoh yang disebut merumuskan dan mengembangkan metode tersebut secara sistematis sejak 1997. Keilmuan itu, kata dia, berakar dari manuskrip lama dan tradisi pengobatan yang diwariskan para leluhur.

Dalam penjelasannya, nama-nama seperti Malik Ibrahim, Pangeran Kornel, hingga Buyut Eleng Ki Mahadaro disebut sebagai bagian dari mata rantai pewarisan keilmuan tersebut. Narasi seperti ini memang tidak bisa dilepaskan dari tradisi lisan Nusantara, di mana pengetahuan kesehatan kerap berkembang melalui jalur keluarga, padepokan, atau komunitas adat.

Di banyak daerah Indonesia, praktik serupa sesungguhnya masih hidup. Sebagian diwariskan melalui ramuan herbal, sebagian lain melalui teknik pijat, pernapasan, hingga terapi titik tubuh yang berkembang sebelum layanan kesehatan modern menjangkau masyarakat luas.

Dari Praktik Tradisional ke Pengakuan Formal

Yang menarik, GM Terapi tidak berhenti pada pendekatan tradisional semata. Organisasi ini mencoba membawa praktik pengobatan berbasis budaya ke ranah yang lebih formal melalui legalitas organisasi, standardisasi pelatihan, hingga sertifikasi internal bagi para terapisnya.

Master Adin menyebut Gusmus Raksa Jasad kini telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB). Klaim mengenai keterkaitannya dengan pengakuan UNESCO juga menjadi bagian yang kerap disampaikan dalam berbagai forum mereka, meski publik tetap perlu membedakan antara pencatatan nasional dan status resmi dalam daftar warisan budaya UNESCO yang memiliki mekanisme tersendiri.

Terlepas dari itu, fenomena meningkatnya minat terhadap terapi tradisional memang bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat urban mulai kembali mencari pendekatan kesehatan yang dianggap lebih personal, holistik, dan tidak semata bergantung pada obat kimia.

Di sisi lain, dunia kesehatan modern juga mulai membuka ruang terhadap praktik komplementer selama dilakukan secara bertanggung jawab dan tidak bertentangan dengan standar keselamatan medis.

Menyatukan Tubuh, Pikiran, dan Spiritualitas

Gusmus Raksa Jasad

Dalam praktiknya, Gusmus Raksa Jasad tidak hanya berbicara soal penyembuhan fisik. Ada dimensi spiritual dan pembentukan karakter yang cukup kuat dalam sistem pengajarannya.

GM Terapi mengenalkan tiga fondasi utama: Ilmu Ketunggalan yang berorientasi pada ketauhidan, Nata Diri dan Nata Raga yang menekankan pembentukan mental serta etika terapis, dan Raksa Jasad yang berfokus pada pemeliharaan tubuh.

Pendekatan seperti ini mencerminkan cara pandang lama masyarakat Nusantara terhadap kesehatan: tubuh dan pikiran dianggap saling terhubung. Karena itu, proses penyembuhan tidak hanya menyasar gejala fisik, tetapi juga kondisi emosional seseorang.

Metode terapinya sendiri cukup beragam, mulai dari akupresur, bekam dengan standar operasional tertentu, akupunktur, hipnoterapi, hingga penggunaan herbal berbasis racikan tradisional.

Menariknya, GM Terapi juga menyediakan pendekatan berbeda bagi pasien yang memiliki ketakutan terhadap jarum atau darah. Dalam beberapa kasus, pasien diarahkan ke terapi herbal atau hipnoterapi sebagai alternatif yang dianggap lebih nyaman secara psikologis.

Antara Kearifan Lokal dan Tuntutan Modern

Di tengah berkembangnya terapi tradisional, tantangan terbesar sebenarnya bukan sekadar soal popularitas, melainkan bagaimana menjaga akuntabilitas dan keselamatan praktiknya.

GM Terapi mengklaim produk herbal mereka telah memenuhi standar legalitas seperti BPOM dan diproduksi dengan proses tertentu, termasuk fermentasi dan kristalisasi bahan alami. Produk itu tersedia dalam bentuk kapsul, serbuk, teh, hingga madu.

Namun di luar aspek produk, tantangan yang lebih besar adalah memastikan bahwa praktik terapi tetap berjalan dalam batas yang jelas: sebagai pendamping kesehatan, bukan pengganti total layanan medis profesional untuk kondisi tertentu.

Kesadaran ini penting agar terapi tradisional tidak terjebak dalam klaim berlebihan yang justru dapat merugikan masyarakat.

Di sisi lain, keberadaan organisasi seperti GM Terapi menunjukkan bahwa pengobatan tradisional di Indonesia sedang bergerak menuju fase baru: tidak lagi hanya bertumpu pada pewarisan informal, tetapi mulai membangun sistem pelatihan, jejaring komunitas, dan tata kelola organisasi.

Menjaga Warisan agar Tidak Sekadar Menjadi Nostalgia

Gusmus Raksa Jasad

Di banyak tempat, warisan pengobatan tradisional perlahan hilang karena generasi mudanya tidak lagi tertarik mempelajari ilmu leluhur. Karena itu, upaya dokumentasi dan pengorganisasian yang dilakukan berbagai komunitas terapi menjadi penting, setidaknya untuk menjaga agar pengetahuan tersebut tidak lenyap begitu saja.

Namun pelestarian budaya kesehatan juga membutuhkan sikap kritis dan terbuka. Tradisi yang bertahan bukan hanya tradisi yang dihormati, tetapi juga yang mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat modern.

Gusmus Raksa Jasad tumbuh di tengah persimpangan itu—antara spiritualitas, budaya, dan tuntutan kesehatan kontemporer. Ia menjadi contoh bagaimana masyarakat Indonesia masih memiliki hubungan yang kuat dengan warisan pengobatan berbasis lokal, bahkan ketika dunia medis modern berkembang begitu cepat.

Pada akhirnya, yang dicari banyak orang bukan hanya kesembuhan fisik, melainkan rasa dipahami sebagai manusia secara utuh. Dan mungkin, di situlah terapi tradisional tetap menemukan tempatnya hingga hari ini.

Baca Juga:


Penulis: Redaksi Kesehatan
Editor: Tim Editorial