Tokoh Batak Toba Robin Goeltom Apresiasi Penganugerahan “Satria Adhyaksa Nusantara” kepada Jaksa Agung

Redaksi Nasional

Penganugerahan gelar kehormatan “Satria Adhyaksa Nusantara” kepada Jaksa Agung Republik Indonesia mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk tokoh masyarakat adat dan komunitas lintas etnis. Kegiatan yang berlangsung dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Persatuan Jaksa Indonesia (PERSAJA) itu dinilai menjadi momentum penting dalam memperkuat hubungan antara institusi negara dan masyarakat adat.

Salah satu apresiasi disampaikan tokoh Batak Toba, Robin Goeltom, yang hadir langsung dalam penganugerahan gelar kehormatan oleh Baresan Olot Masyarakat Adat Jawa Barat (BOMA) kepada Jaksa Agung RI Sanitiar Burhanuddin di Badan Diklat Kejaksaan RI, Ragunan, Jakarta, Rabu (06/05/2026).

Bagi Robin, kegiatan tersebut bukan hanya seremoni penghormatan semata, tetapi juga menjadi momentum yang mempertemukan tokoh adat, masyarakat, dan institusi penegak hukum dalam suasana yang terbuka dan penuh kekeluargaan.

Ia menilai kehadiran para tokoh adat dari berbagai daerah mencerminkan adanya ruang komunikasi yang semakin dekat antara negara dan masyarakat akar rumput, terutama dalam membangun dialog kebangsaan yang lebih inklusif.

“Tidak mudah menghadirkan tokoh adat dari berbagai daerah dalam satu forum nasional seperti ini. Ada proses komunikasi dan pendekatan sosial yang panjang di baliknya,” ujar Robin saat memberikan tanggapan terkait kegiatan tersebut, Jumat.

Ruang Dialog antara Negara dan Masyarakat Adat

Kegiatan penghormatan kepada Jaksa Agung tersebut diketahui turut melibatkan sejumlah perwakilan masyarakat adat dan tokoh budaya dari berbagai wilayah di Indonesia. Dalam pandangan Robin Goeltom, keterlibatan komunitas adat dalam agenda kelembagaan memiliki nilai penting karena memperlihatkan adanya ruang partisipasi yang lebih luas.

Ia menilai pendekatan berbasis budaya dapat menjadi salah satu cara memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang semakin beragam.

“Forum seperti ini bukan hanya soal penghargaan, tetapi juga tentang bagaimana negara membuka ruang komunikasi dengan masyarakat adat dan komunitas budaya,” katanya.

Robin menambahkan, pendekatan humanis dalam membangun hubungan kelembagaan dinilai semakin relevan di tengah tantangan sosial yang berkembang saat ini, termasuk isu keberagaman, pelestarian budaya, hingga penguatan nilai kebangsaan.

Soroti Peran Eka Santosa dalam Pendekatan Kultural

Dalam keterangannya, Robin juga menyoroti peran Eka Santosa yang dinilai memiliki kemampuan membangun komunikasi lintas kelompok dan komunitas.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan tidak hanya bersifat formal, tetapi juga berbasis kedekatan sosial dan pemahaman budaya.

Ia menyebut keberhasilan mempertemukan tokoh adat dari berbagai latar belakang dalam satu forum mencerminkan adanya jejaring sosial yang kuat serta kemampuan membangun dialog secara inklusif.

“Sebagian tokoh adat datang dari wilayah yang cukup jauh dengan latar budaya berbeda. Itu tentu membutuhkan komunikasi yang baik agar semua pihak merasa dihargai dan nyaman,” ujarnya.

Robin menilai pola komunikasi seperti itu penting untuk menjaga hubungan harmonis antara masyarakat adat, komunitas budaya, dan institusi negara.

Baca Juga: BOMA Anugerahkan Gelar “Satria Adhyaksa Nusantara” kepada Jaksa Agung, Simbol Sinergi Budaya dan Penegakan Hukum

Konsistensi pada Isu Lingkungan dan Sosial

Selain menyoroti pendekatan kebudayaan, Robin juga menilai Eka Santosa dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan lingkungan di Jawa Barat.

Menurutnya, perhatian terhadap isu lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat adat menjadi salah satu hal yang membuat sosok tersebut dekat dengan berbagai komunitas.

“Beliau dikenal cukup konsisten dalam kegiatan sosial dan lingkungan. Itu yang membuat banyak komunitas merasa dekat,” kata Robin.

Ia menilai pendekatan berbasis komunitas memiliki dampak jangka panjang dalam membangun kesadaran sosial, terutama terkait pelestarian lingkungan dan penguatan identitas budaya lokal.

Pendekatan Budaya Dinilai Relevan

Tokoh Batak Toba Robin Goeltom Apresiasi Penganugerahan “Satria Adhyaksa Nusantara” kepada Jaksa Agung

Pengamat sosial menilai pendekatan budaya dalam membangun komunikasi publik semakin relevan di tengah perkembangan masyarakat modern. Kegiatan yang melibatkan unsur adat dan budaya dinilai mampu menciptakan kedekatan emosional yang tidak selalu bisa dibangun melalui pendekatan birokrasi formal.

Dalam konteks tersebut, forum yang mempertemukan tokoh masyarakat, komunitas adat, dan lembaga negara dapat menjadi ruang dialog yang memperkuat rasa kebangsaan sekaligus menjaga nilai-nilai lokal.

Selain itu, keterlibatan tokoh adat dalam agenda nasional juga dinilai dapat memperluas partisipasi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga:BOMA Jawa Barat Anugerahkan Gelar Kehormatan kepada Jaksa Agung, Dorong Penegakan Hukum dan Perlindungan Lingkungan

Simbolik, tetapi Memiliki Pesan Sosial

Pemberian gelar kehormatan kepada pejabat negara memang bukan hal baru dalam tradisi sosial dan budaya Indonesia. Namun, keterlibatan komunitas adat dalam kegiatan tersebut memberi dimensi sosial yang lebih luas.

Kegiatan semacam ini menunjukkan bahwa pendekatan kebangsaan tidak selalu harus dibangun melalui jalur formal pemerintahan, melainkan juga dapat tumbuh melalui komunikasi budaya dan hubungan sosial antarkomunitas.

Di tengah dinamika sosial yang terus berkembang, figur yang mampu menjembatani komunikasi lintas kelompok dinilai memiliki peran penting dalam menjaga harmoni sosial dan memperkuat rasa persatuan.

Penutup

Apresiasi yang disampaikan Robin Goeltom terhadap penganugerahan “Satria Adhyaksa Nusantara” kepada Jaksa Agung tidak hanya mencerminkan penghormatan terhadap institusi negara, tetapi juga memperlihatkan pentingnya ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat adat.

Melalui pendekatan sosial dan budaya, berbagai elemen masyarakat dinilai dapat membangun komunikasi yang lebih terbuka, inklusif, dan konstruktif dalam memperkuat nilai kebangsaan di tengah keberagaman Indonesia.

Penulis: Redaksi Nasional
Editor: Tim Editor