Wakil Indonesia Berguguran di Istora, Sektor Ganda Jaga Asa di Indonesia Masters 2026

Redaksi Sport

Updated on:

Gemuruh Istora Senayan belum juga reda ketika pertandingan terakhir babak 16 besar Indonesia Masters 2026 ditutup Kamis malam, 22 Januari. Di tribun, penonton masih bertahan, sebagian berdiri sambil menatap layar skor, sebagian lain menghela napas panjang setelah menyaksikan hari yang penuh emosi bagi tuan rumah.

Turnamen level Indonesia Masters 2026 kembali menunjukkan mengapa Istora selalu punya cerita sendiri dalam kalender bulu tangkis dunia. Ada tekanan, sorak-sorai, momentum kebangkitan, juga rasa kecewa yang datang nyaris bersamaan dalam satu hari pertandingan.

Bagi Indonesia, hari keempat turnamen menghadirkan dua wajah sekaligus. Sektor ganda tampil menjanjikan dan menjaga peluang Merah Putih menuju akhir pekan. Namun di sektor tunggal, situasinya jauh dari ideal. Cedera dan inkonsistensi kembali menjadi pekerjaan rumah yang belum selesai sejak awal musim.

Sorotan terbesar datang dari kabar mundurnya Anthony Sinisuka Ginting akibat cedera pinggang sebelum turun bertanding melawan Jason Teh. Keputusan walkover itu membuat suasana Istora sempat muram. Penonton yang sejak siang menunggu aksi Ginting hanya bisa menerima kenyataan bahwa salah satu andalan tunggal putra Indonesia belum benar-benar pulih secara fisik.

Di tengah jadwal internasional yang padat sejak awal tahun, kondisi itu menjadi pengingat bahwa tuntutan kompetisi level elite kini tidak hanya soal kualitas teknik, tetapi juga kemampuan menjaga tubuh tetap stabil sepanjang musim.

Di luar absennya Ginting, sektor ganda justru memberi energi berbeda.

Ganda Putra Jadi Penopang Utama

Pertandingan sesama wakil Indonesia antara Fajar Alfian / Muhammad Shohibul Fikri melawan Leo Rolly Carnando / Bagas Maulana berlangsung dalam tensi tinggi sejak awal.

Tidak banyak reli panjang yang benar-benar nyaman dimainkan kedua pasangan. Mereka sudah terlalu mengenal pola masing-masing. Gim pertama dimenangkan Fajar/Fikri dengan 21-16, tetapi Leo/Bagas sempat memaksa pertandingan berlanjut ke rubber game setelah merebut gim kedua 21-18.

Di gim penentuan, pengalaman berbicara. Fajar/Fikri tampil lebih tenang dalam mengontrol ritme dan menutup laga dengan skor 21-13.

Namun pertandingan yang paling menyita emosi publik datang dari pasangan muda Raymond Indra / Nikolaus Joaquin. Menghadapi pasangan Taiwan Yang Po-hsuan / Lee Jhe-huei, mereka tertinggal lebih dulu sebelum bangkit dan memenangi laga dramatis 24-22 di gim ketiga.

Pada poin-poin akhir, Istora benar-benar hidup. Teriakan penonton terdengar nyaris tanpa jeda setiap kali reli memasuki fase kritis. Momentum seperti itu yang sering membuat pemain Indonesia mampu menemukan energi tambahan di kandang sendiri.

Pasangan Sabar Karyaman Gutama juga menjaga langkah Indonesia usai menyingkirkan wakil Malaysia Tan Wee Kiong / Nur Mohd Azriyn Ayub melalui pertandingan tiga gim.

Ganda Putri Mulai Menunjukkan Bentuk Permainan

Wakil Indonesia Berguguran di Istora, Sektor Ganda Jaga Asa di Indonesia Masters 2026

Di sektor ganda putri, performa Indonesia terlihat lebih stabil dibanding beberapa turnamen sebelumnya.

Pasangan Siti Fadia Silva Ramadhanti / Amallia Cahaya Pratiwi menang dua gim langsung atas wakil Thailand. Permainan mereka terlihat lebih rapi terutama dalam transisi bertahan ke menyerang.

Sementara itu, Apriyani Rahayu / Lanny Tria Mayasari mulai memperlihatkan chemistry yang semakin matang. Komunikasi di lapangan berjalan lebih cair dibanding penampilan mereka di awal musim.

Meski belum sepenuhnya dominan, ada perkembangan yang cukup terasa dari cara mereka mengelola tekanan di poin-poin akhir.

Baca Juga: Jadwal Futsal Asian Cup 2026: Indonesia Bidik Sejarah di Hadapan Publik Sendiri

Tunggal Masih Menjadi Catatan

Di balik keberhasilan sektor ganda, performa tunggal Indonesia kembali memunculkan pertanyaan.

Putri Kusuma Wardani sebenarnya sempat memberi perlawanan sengit sebelum kalah rubber game dari Huang Yu-Hsun asal Taiwan. Sementara pemain muda Zaki Ubaidillah belum mampu keluar dari tekanan saat menghadapi Loh Kean Yew.

Situasi ini memperlihatkan bahwa regenerasi sektor tunggal Indonesia masih membutuhkan waktu. Dalam beberapa tahun terakhir, sektor ganda memang konsisten menjadi penyumbang prestasi terbesar Indonesia di level dunia. Sebaliknya, sektor tunggal masih naik turun, baik dari segi performa maupun kesiapan mental.

Faktor tekanan bermain di kandang sendiri juga tidak bisa diabaikan. Bermain di Istora selalu menghadirkan energi besar, tetapi pada saat yang sama juga membawa ekspektasi yang tidak ringan.

Peluang Indonesia di Perempat Final

Memasuki babak perempat final Jumat, 23 Januari 2026, peluang Indonesia masih cukup terbuka, terutama melalui sektor ganda putra dan ganda putri.

Secara teknis, pasangan-pasangan Indonesia terlihat mampu bersaing dengan unggulan luar negeri. Namun tantangan sebenarnya baru akan terasa ketika pertandingan memasuki fase yang menuntut konsistensi mental lebih tinggi.

Dalam turnamen seperti Indonesia Masters, momentum sering kali menentukan hasil akhir. Dukungan publik Istora memang bisa menjadi keuntungan besar, tetapi hanya efektif jika mampu diimbangi dengan ketenangan bermain.

Sejauh ini, sektor ganda Indonesia terlihat memiliki modal itu.

Dan ketika sebagian wakil tuan rumah mulai berguguran, sektor inilah yang kini menjaga harapan publik agar akhir pekan di Istora tetap punya alasan untuk bergemuruh lebih lama.

Baca Juga: Jose Enrique Bersinar, Persik Kediri Bungkam Semen Padang 3-0 di Padang


Penulis: Redaksi Sport
Editor: Tim Editorial