Kerusuhan Mayday 2026 di Bandung, Aksi Anarkis Picu Gerakan “Jaga Lembur” Forum Ormas Jabar

Mokhammad Gun Gun

Updated on:

Bandung, 1 Mei 2026 — Peringatan Hari Buruh Internasional (Mayday) di Kota Bandung yang awalnya berlangsung relatif kondusif berubah mencekam pada Jumat sore. Situasi memanas setelah sekelompok massa berpakaian serba hitam melakukan aksi anarkis di sejumlah titik strategis kota, mulai dari kawasan Tamansari hingga Cikapayang.

Aksi tersebut tidak hanya merusak fasilitas publik, tetapi juga memicu kekhawatiran luas di tengah masyarakat, terutama karena terjadi di pusat aktivitas kota menjelang malam hari.


Kronologi: Dari Aksi Damai hingga Kerusuhan

Sejak pagi hingga siang hari, rangkaian aksi buruh di berbagai titik di Bandung berlangsung tertib. Aktivitas massa terpantau aman di sekitar kawasan Monumen Perjuangan (Monju) dan Jalan Suci.

Namun, situasi berubah drastis menjelang Maghrib. Sekelompok massa berpakaian hitam muncul secara tiba-tiba dan langsung melakukan aksi perusakan. Pos penjagaan polisi di sekitar Balubur Town Square (Baltos) dilaporkan dibakar, sementara fasilitas lain seperti layar Megatron mengalami kerusakan.

Upaya pemadaman yang dilakukan petugas pun tidak berjalan mudah. Sejumlah petugas pemadam kebakaran dilaporkan kesulitan mendekat ke lokasi akibat lemparan batu dari arah Flyover Pasopati.


Respons Cepat: “Jaga Lembur” Turun ke Lapangan

Menyikapi situasi yang kian tidak terkendali, Forum Ormas, LSM, dan Komunitas Provinsi Jawa Barat segera mengerahkan kekuatan gabungan dalam aksi bertajuk “Jaga Lembur”.

Di bawah komando Ketua Umum R. Hendra Mulyana, sekitar 200 personel dari 20 organisasi diterjunkan untuk membantu menjaga kondusivitas kota.

Titik konsolidasi dipusatkan di Markas Forum Ormas Jabar di Jalan Sumedang No. 4, sebelum personel bergerak ke sejumlah titik rawan untuk menghalau pergerakan massa.

Dalam beberapa kesempatan, anggota di lapangan bahkan terlibat konfrontasi langsung saat mencoba mencegah massa memasuki kawasan yang lebih vital.

Baca Juga: BBC Ancam Demo Wali Kota Bandung soal Penghentian CFD Buah Batu


Pernyataan Resmi

Ketua Umum Forum Ormas Jabar, R. Hendra Mulyana, mengungkapkan bahwa kondisi di lapangan sempat berada dalam situasi yang sulit dikendalikan.

“Kondisi di lapangan sempat chaos. Bahkan petugas pemadam kebakaran kesulitan merapat karena dihujani lemparan batu dari atas Flyover Pasopati,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pihaknya berupaya menahan laju massa agar tidak meluas ke pusat kota.

“Kami dengan kekuatan sekitar 200 anggota mencoba menghadang mereka agar tidak masuk lebih jauh ke jantung kota. Kami bertahan, meski beberapa anggota kami mengalami cedera,” tambahnya.


Dampak: Ekonomi Terganggu, Warga Diliputi Kekhawatiran

Kerusuhan tersebut berdampak langsung pada aktivitas masyarakat. Sejumlah ruas jalan ditutup, memicu kemacetan dan menghambat mobilitas warga.

Pelaku usaha di sekitar lokasi kejadian juga mengalami penurunan aktivitas secara signifikan. Beberapa di antaranya terpaksa menutup lebih awal demi menghindari risiko keamanan.

Selain itu, rasa aman masyarakat ikut terganggu, terutama bagi warga yang tinggal di sekitar titik kerusuhan.

Baca Juga: Penunjukan Susi Pudjiastuti di Bank BJB Disorot: Antara Optimisme dan Catatan Kehati-hatian


Konteks: Pola Berulang dalam Aksi Mayday

Kerusuhan yang terjadi pada peringatan Mayday bukan sepenuhnya fenomena baru. Dalam beberapa tahun terakhir, aksi buruh di berbagai kota besar kerap diwarnai kemunculan kelompok tertentu yang memanfaatkan momentum untuk melakukan tindakan anarkis.

Di Bandung, meskipun beberapa peringatan sebelumnya berlangsung relatif terkendali, potensi gangguan keamanan tetap menjadi perhatian aparat dan masyarakat.


Analisis: Indikasi Gerakan Terorganisir

Sejumlah pihak menilai bahwa pola pergerakan massa dalam insiden ini menunjukkan indikasi koordinasi yang cukup rapi. Kemunculan tiba-tiba, pemilihan titik strategis, serta eskalasi aksi yang cepat menjadi indikator adanya perencanaan tertentu.

Jika tidak diantisipasi dengan pendekatan yang komprehensif—baik melalui penegakan hukum maupun strategi pencegahan—pola serupa berpotensi terulang pada momentum aksi massa berikutnya.

Di sisi lain, kejadian ini juga menegaskan pentingnya sinergi antara aparat keamanan dan elemen masyarakat dalam menjaga stabilitas wilayah.


Penutup

Kerusuhan Mayday 2026 di Bandung menjadi pengingat bahwa dinamika aksi massa selalu memiliki potensi eskalasi yang tidak terduga. Koordinasi yang kuat, respons cepat, serta keterlibatan berbagai elemen masyarakat menjadi kunci dalam meredam situasi.

Forum Ormas Jabar pun mengajak seluruh pihak untuk tetap menjaga kondusivitas serta mengedepankan komunikasi dalam menghadapi berbagai dinamika sosial.

Dengan pendekatan yang lebih terstruktur dan kolaboratif, diharapkan peristiwa serupa tidak kembali terulang dan ruang publik tetap aman bagi seluruh warga.

Baca Juga: Indonesia Stop Impor Solar 2026: Era Baru Energi Sawit dan Implementasi B50 Dimulai