JAKARTA, Aksi.me — Tekanan harga kebutuhan pokok kembali menjadi perhatian nasional menjelang rilis data resmi inflasi April 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan konsensus pasar, inflasi secara bulanan (month-to-month/mtm) diproyeksikan berada di kisaran 0,38% hingga 0,43%.
Meski demikian, secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan melandai ke level sekitar 2,72%. Angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi Maret 2026 yang menyentuh 3,48% (yoy). Perbedaan arah laju harga ini mengindikasikan adanya gejolak jangka pendek, namun tren jangka panjang tetap terkendali.
Penyesuaian Harga Energi dan Tekanan Rupiah
Kepala Ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menjelaskan bahwa pendorong utama inflasi bulanan kali ini berasal dari penyesuaian sektor energi serta dinamika komoditas pangan. Di samping itu, tekanan inflasi barang impor (imported inflation) turut dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah.
Pantauan langsung jurnalis Aksi.me di lapangan mengonfirmasi bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi per pertengahan April 2026 mulai berdampak pada sektor logistik dan transportasi umum. Saat ini, harga Pertamax Turbo disesuaikan menjadi Rp19.400 per liter dan Pertamina Dex mencapai Rp23.900 per liter.
Selain BBM, harga LPG non-subsidi kemasan 12 kilogram juga tercatat naik menjadi Rp228.000 per tabung di wilayah Jabodetabek. Kondisi ini berpotensi meningkatkan biaya operasional usaha serta memicu tekanan pada daya beli masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
+-----------------------------------------------------------------------+
| PROYEKSI INDIKATOR INFLASI APRIL 2026 |
+-----------------------------------------------------------------------+
| Proyeksi Inflasi Bulanan (mtm) : 0,38% - 0,43% |
| Proyeksi Inflasi Tahunan (yoy) : ~2,72% (Maret: 3,48%) |
| Harga Pertamax Turbo : Rp19.400 / liter |
| Harga Pertamina Dex : Rp23.900 / liter |
| Harga LPG Non-Subsidi 12 kg : Rp228.000 / tabung (Jabodetabek) |
+-----------------------------------------------------------------------+
Efek Deflasi Pangan dan Normalisasi Basis
Meskipun energi menyumbang tekanan, sejumlah komoditas pangan justru berfungsi sebagai penahan laju inflasi. Berdasarkan data pantauan pasar harian, harga daging ayam ras mencatatkan penurunan sebesar 2,29%, diikuti oleh penurunan harga cabai merah.
Dampak kenaikan BBM terhadap indeks inflasi pun dinilai tidak dominan. Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyampaikan bahwa penyesuaian BBM diperkirakan hanya menambah sekitar 0,04 poin persentase terhadap angka inflasi bulanan. Senada, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menegaskan bahwa kontribusi sektor energi masih dalam batas moderat.
Dari sisi tahunan, Ekonom Bank Danamon, Hosianna Situmorang, menuturkan bahwa penurunan angka inflasi yoy dipengaruhi oleh berakhirnya efek basis (base effect). Pelandaian terjadi lantaran efek potongan harga listrik pada periode yang sama tahun lalu tidak lagi berlaku, sehingga struktur tren inflasi moneter Indonesia tetap berada pada jalur stabil.
Baca Juga
- OJK: 81 BPR Disetujui Konsolidasi, 200 Lebih Masih Diproses
- SBY Soroti Tekanan di Pasar Modal dan Nilai Tukar, Ajak Semua Pihak Jaga Kepercayaan Ekonomi
- OJK Minta Investor Tetap Tenang Jelang Evaluasi MSCI Indonesia
- Bahlil Tunda Rencana Kenaikan Royalti Tambang, Formula Baru Masih Dikaji
Penulis: Ken Zanindha

Ken Zanindha adalah jurnalis Aksi.me yang berfokus pada liputan ekonomi, industri, dan kebijakan publik. Berbekal latar belakang pendidikan komunikasi dari STIKOM Bandung serta pengalaman sebagai reporter di sejumlah televisi lokal, ia menulis berita dan analisis yang mengutamakan akurasi, verifikasi, dan relevansi bagi pembaca.






