Aksi.me — Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyoroti kondisi pasar modal, pasar uang, dan pergerakan nilai tukar rupiah yang menurutnya tengah menghadapi tekanan. Pernyataan tersebut disampaikan melalui akun X pribadinya pada Selasa (12/5/2026), di tengah meningkatnya perhatian pelaku pasar terhadap dinamika ekonomi global.
SBY mengatakan tetap mengikuti perkembangan ekonomi nasional meskipun sedang berada di Magelang untuk melakukan aktivitas melukis.
“Saya, sambil melukis di Magelang, mengikuti perkembangan dan dinamika pasar. Baik pasar modal maupun pasar uang. Memang, kurang menggembirakan,” tulis SBY.
Pantauan pemberitaan ekonomi yang dihimpun Aksi.me menunjukkan bahwa pasar keuangan Indonesia masih menghadapi berbagai sentimen eksternal, mulai dari arah kebijakan suku bunga global, ketidakpastian ekonomi internasional, hingga perubahan arus modal investor terhadap negara berkembang.
Daftar Isi
ToggleMengapa Pasar Modal dan Rupiah Sedang Tertekan?
Tekanan pada pasar keuangan biasanya dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung melakukan penyesuaian portofolio sehingga dapat berdampak terhadap pergerakan saham, obligasi, dan nilai tukar.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebagai gambaran aktivitas perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), serta pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kondisi global seperti arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, dinamika geopolitik, dan perubahan ekspektasi ekonomi dunia dapat memengaruhi sentimen investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Tekanan pada nilai tukar rupiah juga dapat berdampak terhadap sektor usaha tertentu, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor. Perubahan kurs dapat memengaruhi biaya produksi, harga barang, serta keputusan investasi dunia usaha.
Berdasarkan data pasar yang perlu diperbarui sesuai waktu publikasi, pergerakan rupiah, IHSG, dan yield obligasi pemerintah menjadi sejumlah indikator yang terus dipantau investor dalam menilai kondisi ekonomi nasional.
Catatan Redaksi: Data angka nilai tukar rupiah, IHSG, dan yield obligasi perlu disesuaikan dengan data resmi dari Bank Indonesia (BI), Bursa Efek Indonesia (BEI), atau sumber pasar terpercaya pada saat artikel diterbitkan.
SBY Nilai Tekanan Ekonomi Masih Dapat Dikendalikan
Meski mengakui kondisi pasar belum sepenuhnya menggembirakan, SBY menilai tekanan ekonomi yang lebih berat masih dapat dicegah apabila pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan mengambil langkah yang tepat.
“Tetapi, saya berpendapat, tekanan ekonomi yang lebih berat masih dapat dicegah. Tentu something must be done. Kita masih memiliki political & economic resources. Opsi & solusi masih tersedia,” tulis SBY.
Menurut SBY, Indonesia masih memiliki modal politik dan ekonomi untuk menghadapi tantangan yang berkembang. Karena itu, berbagai pilihan kebijakan masih terbuka selama dilakukan secara terukur dan mampu menjaga stabilitas ekonomi.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks meningkatnya perhatian terhadap kondisi pasar keuangan Indonesia, termasuk bagaimana pemerintah menjaga kepercayaan publik dan investor di tengah perubahan ekonomi global.
Soliditas Pemerintah dan Pelaku Ekonomi Dinilai Penting
SBY juga menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, ekonom, regulator, serta seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga stabilitas ekonomi.
“Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, pemerintah, dunia usaha, para ekonom dan seluruh pemangku kepentingan must be on board. In crucial things unity. Mutual trust mesti dibangun bersama,” tulisnya.
Dalam kondisi pasar yang sensitif terhadap berbagai informasi ekonomi dan politik, komunikasi kebijakan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan investor. Selain membaca data ekonomi, pasar juga mempertimbangkan konsistensi kebijakan, kepastian regulasi, dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal maupun moneter.
Sejumlah analis ekonomi menilai bahwa menjaga kepercayaan menjadi bagian penting dalam menghadapi tekanan pasar. Optimisme perlu berjalan bersama langkah kebijakan yang konkret agar stabilitas ekonomi tetap terjaga.
Bank Indonesia, OJK, dan BEI Berperan Menjaga Stabilitas Pasar
Dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, sejumlah lembaga memiliki peran penting sesuai kewenangannya.
Bank Indonesia (BI) memiliki tugas menjaga stabilitas nilai rupiah melalui kebijakan moneter dan berbagai langkah stabilisasi pasar sesuai kondisi ekonomi.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan pengawasan terhadap sektor jasa keuangan serta menjaga agar industri keuangan tetap berjalan secara sehat dan stabil.
Di sisi pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI) menjalankan fungsi penyelenggaraan perdagangan efek agar berlangsung secara teratur, wajar, dan efisien.
Kolaborasi antarlembaga tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor dan stabilitas sistem keuangan nasional.
Pasar Tidak Hanya Membaca Data Ekonomi
Dalam situasi pasar yang berfluktuasi, investor tidak hanya memperhatikan angka pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar, atau indeks saham. Faktor lain seperti stabilitas politik, kepastian kebijakan, dan komunikasi pemerintah juga menjadi perhatian.
Pelemahan sentimen pasar dapat terjadi apabila terdapat ketidakpastian mengenai arah kebijakan ekonomi. Sebaliknya, kejelasan strategi dan koordinasi antarpemangku kepentingan dapat membantu menjaga ekspektasi pasar.
Hingga berita ini ditulis, belum terdapat tanggapan resmi dari pemerintah terkait pernyataan SBY tersebut. Aksi.me akan memperbarui informasi apabila terdapat keterangan resmi dari pihak terkait.
SBY Ajak Masyarakat Mendukung Pemerintah

Pada bagian akhir pernyataannya, SBY mengajak masyarakat memberikan kesempatan kepada pemerintah untuk bekerja menghadapi dinamika ekonomi yang berkembang.
“Mari kita berikan kesempatan dan dukungan kepada pemerintah. Insya Allah Indonesia bisa,” tulisnya.
Pesan tersebut menekankan pentingnya menjaga kepercayaan sebagai salah satu faktor pendukung stabilitas ekonomi. Dalam berbagai periode tekanan ekonomi, keyakinan publik dan pelaku pasar menjadi bagian dari faktor yang memengaruhi pemulihan kondisi ekonomi.

Ken Zanindha adalah jurnalis Aksi.me yang berfokus pada liputan ekonomi, industri, dan kebijakan publik. Berbekal latar belakang pendidikan komunikasi dari STIKOM Bandung serta pengalaman sebagai reporter di sejumlah televisi lokal, ia menulis berita dan analisis yang mengutamakan akurasi, verifikasi, dan relevansi bagi pembaca.






