Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah disebut mulai memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi di tingkat desa. Presiden Prabowo Subianto menyatakan kebutuhan pangan untuk program tersebut telah menciptakan rantai ekonomi baru dengan menyerap hasil produksi masyarakat setempat.
Pernyataan itu disampaikan saat peresmian operasional 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, yang dipantau secara daring dari Jakarta, Sabtu. Acara tersebut dihadiri kepala daerah, pengurus koperasi, serta perangkat desa.
Berdasarkan pantauan jurnalis Aksi.me dari siaran resmi kegiatan, Presiden menegaskan bahwa MBG tidak hanya berfungsi sebagai program pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi instrumen untuk memperkuat aktivitas ekonomi di desa melalui pemanfaatan produk pangan lokal.
“Rp10,8 miliar beredar di desa itu, yang tadinya sebelum ada MBG kita kirim Rp1 miliar dana desa, dengan MBG kita tambah Rp10 miliar,” ujar Prabowo.
MBG Dorong Permintaan Produk Pangan Lokal

Menurut Presiden, estimasi perputaran dana sebesar Rp10,8 miliar di satu desa berasal dari kebutuhan operasional program MBG yang menyerap berbagai komoditas pangan lokal. Produk seperti telur, sayuran, ikan air tawar, bawang merah, hingga tempe disebut menjadi bagian dari rantai pasok untuk memenuhi kebutuhan dapur umum dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Prabowo mengatakan pola tersebut memberikan kepastian pasar bagi petani, peternak, maupun pelaku usaha pangan skala kecil yang sebelumnya bergantung pada fluktuasi permintaan.
“Satu desa Rp10,8 miliar beredar di situ, artinya yang tanam ikan lele bisa dijual, yang tanam bawang merah bisa terjual, yang bikin tempe bisa terbeli, yang jual telur bisa. Semua produsen di desa itu hidup,” katanya.
Pemerintah juga menilai penggunaan bahan pangan dari wilayah sekitar dapat meningkatkan efisiensi distribusi karena mengurangi biaya logistik dan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
Koperasi Desa Diharapkan Perkuat Ekonomi Lokal
Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyampaikan bahwa pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menjadi bagian dari strategi memperkuat sirkulasi ekonomi di tingkat lokal. Dana yang dialokasikan pemerintah diharapkan berputar di desa melalui aktivitas produksi, distribusi, dan perdagangan yang melibatkan masyarakat setempat.
“Ini adalah dampak dari MBG, sekian ratus triliun akan beredar di desa-desa, kelurahan-kelurahan, kabupaten-kabupaten,” ujar Prabowo.
Meski demikian, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa keberhasilan program tetap bergantung pada kualitas pengawasan, tata kelola koperasi, serta konsistensi pelibatan pelaku usaha kecil dalam rantai pasok. Pendampingan kepada petani, peternak, dan koperasi juga dinilai menjadi faktor penting agar pasokan pangan dapat dipenuhi secara berkelanjutan.
Prabowo menyatakan pemerintah berharap manfaat ekonomi program akan semakin dirasakan oleh pemerintah daerah dan masyarakat seiring meluasnya pelaksanaan MBG di berbagai wilayah.
“Sekarang saya kira secara jujur para kepala desa, para bupati sudah mulai merasakan. Ke depan akan lebih merasakan,” kata Presiden.
Baca Juga: Anggaran MBG Dipangkas Rp67 Triliun, Penerima Tetap 62 Juta
Penulis: Ken zanindha

Ken Zanindha adalah jurnalis Aksi.me yang berfokus pada liputan ekonomi, industri, dan kebijakan publik. Berbekal latar belakang pendidikan komunikasi dari STIKOM Bandung serta pengalaman sebagai reporter di sejumlah televisi lokal, ia menulis berita dan analisis yang mengutamakan akurasi, verifikasi, dan relevansi bagi pembaca.






