Hari Buku Nasional 2026: Menjaga Budaya Membaca di Tengah Arus Digital

Maulani Hudayati Surya

Updated on:

Anak-anak sekolah fokus membaca buku cetak di perpustakaan pada Peringatan Hari Buku Nasional 2026.

Peringatan Hari Buku Nasional 2026 pada 17 Mei berlangsung di tengah perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengakses informasi. Di Gedung Layanan Perpustakaan Kota Pontianak, kegiatan literasi tetap berlangsung bersamaan dengan aktivitas yang memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang publik hingga malam hari.

Pada Sabtu (16/5/2026), sejumlah anak membaca buku cerita, sementara remaja mengikuti kegiatan Night at Library berupa nonton bareng dan diskusi film. Layanan perpustakaan pada hari itu juga diperpanjang hingga pukul 21.00 WIB.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak, Rendrayani, mengatakan tantangan literasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan akses terhadap bahan bacaan, tetapi juga cara masyarakat mengonsumsi informasi.

“Tantangan terbesar saat ini adalah kebiasaan masyarakat yang lebih banyak mengakses informasi secara cepat tanpa memahami inti bacaan secara menyeluruh,” ujar Rendrayani, Sabtu (16/5/2026).

Tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional, sekaligus bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 1980. Momentum tersebut kembali menempatkan kebiasaan membaca sebagai bagian dari pembahasan mengenai perkembangan literasi masyarakat.

Membaca Mendalam di Tengah Arus Digital

Perkembangan media sosial dan informasi digital membuat masyarakat semakin terbiasa dengan konten singkat. Kondisi tersebut memudahkan akses terhadap informasi, tetapi juga menghadirkan tantangan dalam mempertahankan perhatian ketika membaca materi yang lebih panjang.

Rendrayani menilai buku tetap memiliki peran dalam membentuk pola pikir kritis dan memperluas wawasan. Membaca buku memberikan kesempatan kepada pembaca untuk memahami sebuah persoalan secara lebih utuh dibandingkan informasi yang dikonsumsi secara singkat.

Pemerintah Kota Pontianak juga mengembangkan literasi berbasis inklusi sosial dengan melibatkan keluarga, sekolah, pemerintah, dan dunia usaha. Pendekatan tersebut menempatkan budaya membaca sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas sekolah atau perpustakaan.

Dalam rangkaian kegiatan Hari Buku Nasional di Gedung Layanan Perpustakaan Kota Pontianak, aktivitas literasi dikemas melalui sejumlah kegiatan. Program tersebut antara lain lomba bercerita bagi siswa sekolah dasar serta nonton bareng dan diskusi film bagi pengunjung.

Pendekatan tersebut menunjukkan upaya menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik yang lebih terbuka bagi berbagai kelompok masyarakat. Perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat peminjaman buku, tetapi juga sebagai ruang pertemuan dan kegiatan literasi.

Perpustakaan Beradaptasi dengan Generasi Digital

Ilustrasi suasana perpustakaan anak yang lengkap dengan berbagai kategori buku bacaan.
Suasana perpustakaan interaktif yang dirancang untuk menumbuhkan minat baca anak sejak usia dini. (Foto: Dok. Aksi.me)

Salah seorang pengunjung, Fitrah Rhama Diansyah, mengatakan Hari Buku Nasional menjadi momentum untuk menghargai kebiasaan membaca.

“Melalui hari buku ini merupakan apresiasi tersendiri bagi kita. Sudah sebanyak ini, kita baca buku,” ujarnya.

Kehadiran teknologi digital tidak serta-merta menghilangkan kebutuhan terhadap buku. Tantangannya adalah membangun pola penggunaan teknologi yang tetap memberikan ruang bagi kegiatan membaca secara mendalam.

Perpustakaan dapat mengambil peran melalui penyediaan koleksi, kegiatan komunitas, serta program yang menghubungkan buku dengan aktivitas digital dan budaya populer. Pendekatan tersebut dapat membuat kegiatan literasi tetap relevan bagi masyarakat yang terbiasa memperoleh informasi melalui perangkat digital.

Hari Buku Nasional 2026 menjadi momentum untuk kembali menempatkan membaca sebagai bagian dari kebiasaan masyarakat. Di tengah arus informasi yang semakin cepat, kemampuan memahami bacaan, melihat konteks, dan menilai informasi secara kritis tetap menjadi bagian penting dari literasi.

Baca Juga


Penulis: Maulani Hudayati Surya