Roedy Wiranatakusumah Gaungkan Spirit Asia-Afrika dari Bandung, Dorong Relevansi Global di Era Modern

Mokhammad Gun Gun

Updated on:

Gaung Konferensi Asia Afrika (KAA) kembali ditegaskan sebagai fondasi penting dalam menghadapi dinamika global saat ini. Ketua Nazhir Masjid Agung Bandung, Roedy Wiranatakusumah, menyerukan agar Bandung tidak hanya dikenang sebagai lokasi bersejarah, tetapi terus dijaga sebagai pusat lahirnya gagasan besar dunia dan simbol solidaritas negara berkembang.


Bandung dan Warisan Diplomasi Global

Dalam momentum refleksi peringatan KAA, Roedy menegaskan bahwa nilai-nilai yang lahir dari konferensi tahun 1955 masih memiliki relevansi kuat di tengah tantangan global modern seperti ketimpangan ekonomi, konflik geopolitik, dan fragmentasi kerja sama internasional.

“Bandung bukan sekadar tempat sejarah. Ini adalah simbol bahwa dunia pernah sepakat untuk berdiri sejajar tanpa dominasi,” ujarnya.

Konferensi Asia Afrika sendiri menjadi tonggak penting dalam sejarah diplomasi global, mempertemukan negara-negara yang baru merdeka untuk membangun solidaritas dan memperjuangkan kemandirian di tengah tekanan blok besar dunia saat itu.


Masjid Agung Bandung: Ruang Spiritual dan Gagasan

Roedy menyoroti peran Masjid Agung Bandung yang dinilainya memiliki dimensi historis dan intelektual yang kerap luput dari perhatian publik.

Menurutnya, masjid tersebut bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga ruang refleksi yang turut membentuk pemikiran Presiden Soekarno.

Dalam narasi yang berkembang, Soekarno disebut kerap melakukan perenungan di Bandung, yang kemudian melahirkan gagasan besar terkait solidaritas Asia-Afrika dan prinsip non-blok.

“Di sinilah nilai spiritual dan gagasan besar bertemu,” kata Roedy.

Selain itu, Masjid Agung Bandung juga tercatat sebagai salah satu titik interaksi informal para delegasi dunia saat KAA berlangsung—menjadikannya simbol pertemuan lintas budaya dan nilai.


Peran Strategis Wiranatakusumah dalam Sejarah

Roedy juga mengaitkan keberhasilan Bandung menjadi tuan rumah KAA dengan kontribusi R.A.A. Wiranatakusumah V, tokoh nasional yang memiliki peran penting dalam pemerintahan awal Indonesia.

Sebagai Menteri Dalam Negeri pertama, Wiranatakusumah berperan dalam memastikan kesiapan administratif dan infrastruktur Bandung dalam waktu yang relatif singkat.

Ia juga tercatat sebagai anggota BPUPKI yang berkontribusi dalam perumusan dasar negara.

“Bandung bisa menjadi panggung dunia karena kerja keras para tokoh bangsa, bukan kebetulan,” tegas Roedy.

Baca Juga: Ancaman PHK Menguat, 5 Sektor Industri Ini Berisiko dalam 3 Bulan ke Depan


Tantangan Relevansi di Era Modern

Di tengah perubahan lanskap global, Roedy menilai semangat Asia-Afrika menghadapi tantangan serius, terutama akibat meningkatnya rivalitas geopolitik dan menurunnya solidaritas antarnegara berkembang.

Fenomena global seperti ketimpangan ekonomi, krisis iklim, hingga konflik kawasan dinilai membutuhkan pendekatan baru yang tetap berakar pada nilai-nilai KAA.

“Dunia saat ini kembali terfragmentasi. Spirit Bandung harus dihidupkan kembali sebagai alternatif,” ujarnya.


“Road to Asia Afrika” dan Peran Generasi Muda

Dalam rangka memperingati lebih dari tujuh dekade KAA, pihaknya tengah menyiapkan rangkaian kegiatan bertajuk “Road to Asia Afrika”.

Program ini akan melibatkan berbagai elemen, mulai dari akademisi, pelajar, komunitas budaya, hingga jurnalis.

Langkah ini dinilai penting untuk memastikan bahwa nilai-nilai KAA tidak berhenti sebagai narasi sejarah, tetapi terus berkembang dalam praktik nyata.

“Keterlibatan generasi muda menjadi kunci. Mereka harus memahami bahwa KAA bukan masa lalu, tapi masa depan,” kata Roedy.


Peran Media dan Pertarungan Narasi

Roedy Wiranatakusumah Serukan Kebangkitan Spirit Asia Afrika dari Bandung

Roedy juga menekankan pentingnya peran media dalam menjaga relevansi sejarah Bandung di tengah arus informasi digital yang cepat dan dangkal.

Menurutnya, media tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga membangun narasi yang mampu menghubungkan masa lalu dengan tantangan global saat ini.

Di era disrupsi informasi, media dituntut menghadirkan kedalaman analisis agar publik tidak kehilangan konteks sejarah.


Analisis: Dari Simbol ke Aksi Nyata

Secara substansi, seruan untuk menghidupkan kembali spirit Asia-Afrika mencerminkan kebutuhan akan model kerja sama global yang lebih inklusif.

Namun tantangannya terletak pada implementasi. Tanpa langkah konkret, nilai-nilai tersebut berisiko hanya menjadi simbol historis.

Bandung memiliki modal kuat—sejarah, legitimasi moral, dan identitas global—namun membutuhkan strategi baru agar tetap relevan, termasuk melalui diplomasi budaya, forum internasional, dan kolaborasi lintas sektor.

Baca Juga: KPK Soroti Risiko Korupsi di Program Sekolah Rakyat, Pengadaan Jadi Titik Rawan


Penutup

Seruan Roedy Wiranatakusumah menegaskan bahwa Konferensi Asia Afrika bukan sekadar peristiwa masa lalu, melainkan fondasi moral yang masih relevan hingga kini.

Bandung, sebagai tempat lahirnya gagasan tersebut, memiliki tanggung jawab historis untuk terus menjadi ruang dialog global.

Tantangan ke depan bukan hanya menjaga memori kolektif, tetapi memastikan nilai solidaritas, kemandirian, dan keadilan global benar-benar hidup dalam praktik.