Inflasi April 2026 Diproyeksi Naik, Harga Energi dan Pangan Jadi Tekanan Baru

Mokhammad Gun Gun

Jakarta, 4 Mei 2026 — Tekanan harga kembali menjadi perhatian menjelang rilis data inflasi April 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Sejumlah proyeksi menunjukkan kenaikan inflasi secara bulanan (month-to-month/mtm), terutama dipicu oleh penyesuaian harga energi dan pergerakan komoditas pangan.

Meski demikian, secara tahunan (year-on-year/yoy), inflasi diperkirakan justru mengalami penurunan, mencerminkan stabilitas harga yang relatif terjaga dalam jangka menengah.


Proyeksi Inflasi: Naik Bulanan, Turun Tahunan

Konsensus pasar memperkirakan inflasi April 2026 berada di kisaran 0,38% hingga 0,43% (mtm). Proyeksi ini menunjukkan adanya tekanan harga jangka pendek yang masih cukup terasa.

Namun secara tahunan, inflasi diprediksi turun ke level sekitar 2,72% (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi Maret yang mencapai 3,48% (yoy). Penurunan ini mengindikasikan bahwa tekanan inflasi secara umum masih dalam batas terkendali.

Perbedaan arah antara inflasi bulanan dan tahunan mencerminkan adanya faktor sementara yang mendorong kenaikan harga, sementara tren jangka panjang tetap stabil.

Baca Juga: Forum Inisiator HKTI Jawa Barat Desak Rekonsiliasi, Musda Ditargetkan Mei 2026


Kenaikan Energi dan Pangan Jadi Pendorong

Kepala ekonom Bank Maybank Indonesia, Juniman, menyebut bahwa kenaikan harga pangan dan penyesuaian energi menjadi faktor utama pendorong inflasi.

“Pelemahan rupiah turut mendorong kenaikan inflasi impor,” ujarnya.

Tekanan semakin terasa setelah penyesuaian harga BBM non-subsidi pada pertengahan April 2026. Harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.400 per liter, sementara Pertamina Dex mencapai Rp23.900 per liter.

Selain itu, harga LPG non-subsidi 12 kilogram juga meningkat menjadi Rp228.000 per tabung di wilayah Jabodetabek.

Kenaikan ini berdampak langsung pada biaya transportasi dan pengeluaran rumah tangga.


Kutipan: Dampak Energi terhadap Inflasi Terbatas

Inflasi April 2026 Diproyeksi Naik

Kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai dampak kenaikan energi terhadap inflasi masih relatif terkendali.

“Penyesuaian harga BBM diperkirakan hanya menambah sekitar 0,04 poin persentase terhadap inflasi bulanan,” jelasnya.

Senada, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menyebut kontribusi BBM terhadap inflasi tetap ada, namun tidak dominan.

Baca Juga: Wacana Ambang Batas 13 Kursi DPR Menguat, PDIP Dorong Dialog Lintas Partai


Dampak ke Masyarakat: Daya Beli Mulai Tertekan

Kenaikan inflasi, terutama dari sektor energi, berpotensi dirasakan langsung oleh masyarakat. Biaya transportasi dan kebutuhan harian diperkirakan meningkat, yang pada akhirnya dapat menekan daya beli, khususnya bagi kelompok berpenghasilan menengah ke bawah.

Di sisi lain, pelaku usaha juga menghadapi peningkatan biaya operasional, yang dapat berdampak pada harga jual barang dan jasa di tingkat konsumen.


Dampak: Pangan Menahan Laju Inflasi

Meski tekanan datang dari energi, beberapa komoditas pangan justru membantu menahan laju inflasi.

Harga daging ayam ras tercatat turun sekitar 2,29%, sementara harga cabai merah juga mengalami penurunan. Kondisi ini memberikan efek penyeimbang terhadap kenaikan harga di sektor lain.

Hal ini menunjukkan bahwa dinamika inflasi sangat dipengaruhi oleh pergerakan antar-komoditas, tidak hanya satu sektor saja.


Analisis: Efek Basis Jaga Stabilitas Tahunan

Ekonom Bank Danamon, Hosianna Situmorang, menjelaskan bahwa penurunan inflasi tahunan tidak lepas dari berakhirnya efek basis (base effect).

“Inflasi tahunan melandai karena efek diskon listrik tahun lalu tidak lagi berlaku,” ujarnya.

Efek basis ini membuat angka inflasi terlihat lebih rendah secara tahunan, meskipun tekanan harga masih terjadi dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, kondisi ini menunjukkan bahwa inflasi Indonesia masih berada dalam jalur yang relatif stabil, didukung oleh kebijakan moneter yang terjaga.

Baca Juga:


Penutup

Proyeksi inflasi April 2026 mencerminkan dinamika ekonomi yang kompleks namun tetap terkendali. Kenaikan harga energi dan pangan menjadi tantangan jangka pendek, sementara stabilitas tahunan tetap terjaga.

Ke depan, keseimbangan antara pengendalian inflasi dan daya beli masyarakat menjadi kunci penting. Rilis resmi dari BPS akan menjadi acuan bagi pelaku pasar dan pemerintah dalam menentukan langkah kebijakan selanjutnya.