Membaca buku membutuhkan waktu, tetapi membaca lebih lama tidak selalu berarti memahami lebih banyak. Sebaliknya, membaca terlalu cepat dapat membuat gagasan utama, hubungan antarkonsep, dan informasi penting terlewat. Karena itu, kemampuan membaca yang efektif bukan sekadar mengejar jumlah halaman, melainkan menemukan kecepatan yang sesuai dengan tujuan dan tingkat kesulitan bacaan.
Ringkasan Cepat
- Membaca cepat bukan berarti membaca semua buku dengan kecepatan yang sama.
- Tentukan tujuan membaca sebelum membuka buku.
- Lakukan preview melalui judul, daftar isi, subjudul, pendahuluan, dan kesimpulan.
- Gunakan skimming untuk mendapatkan gambaran umum dan scanning untuk menemukan informasi tertentu.
- Perlambat ketika menemukan konsep, argumentasi, istilah, atau bagian yang sulit.
- Catat gagasan penting, bukan seluruh isi halaman.
- Gunakan active recall untuk memastikan informasi benar-benar dipahami.
- Ukur keberhasilan berdasarkan kombinasi kecepatan dan pemahaman, bukan jumlah halaman semata.
- Membaca cepat dapat dilatih secara mandiri tanpa sertifikat atau dokumen khusus.
- Tidak ada standar pemerintah yang menetapkan seseorang harus mencapai jumlah kata per menit tertentu untuk dapat disebut mampu membaca cepat.
Apa Itu Membaca Cepat dan Mengapa Pemahaman Tetap Penting?
Membaca cepat adalah kemampuan meningkatkan efisiensi membaca dengan mengatur perhatian, strategi memahami teks, serta cara memilih informasi yang relevan. Tujuannya bukan sekadar menyelesaikan buku dalam waktu singkat, tetapi memperoleh informasi yang dibutuhkan secara efektif.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap membaca cepat berarti memaksa mata bergerak secepat mungkin. Cara tersebut justru dapat membuat pembaca kehilangan konteks, melewatkan argumentasi, atau harus membaca ulang bagian yang sama.
Pemahaman tetap menjadi ukuran penting karena setiap buku memiliki tujuan berbeda. Buku hukum, misalnya, membutuhkan ketelitian pada definisi, unsur, pengecualian, dan hubungan antaraturan. Sementara itu, buku populer dapat dibaca lebih cepat ketika pembaca hanya membutuhkan gambaran umum.
Tingkatan pemahaman saat membaca
Pemahaman terhadap buku dapat dilihat dari beberapa tingkat:
- mengetahui fakta yang disampaikan;
- memahami gagasan utama;
- memahami hubungan antargagasan;
- mampu menjelaskan kembali isi bacaan;
- mampu mengingat informasi penting;
- mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh.
Karena itu, kecepatan optimal lebih penting daripada kecepatan maksimum. Pembaca perlu mengetahui kapan harus mempercepat dan kapan harus memperlambat.
Apakah Ada Aturan Pemerintah tentang Membaca Cepat?
Membaca buku secara mandiri tidak memerlukan izin pemerintah, sertifikat, atau dokumen administrasi tertentu. Seseorang bebas memilih buku dan metode belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dalam konteks pendidikan Indonesia, kegiatan belajar secara mandiri memiliki konteks hukum dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Pasal 27 ayat (1) menyatakan bahwa kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri.
Ketentuan tersebut tidak berarti UU No. 20 Tahun 2003 menetapkan teknik membaca cepat. Undang-undang tersebut memberikan kerangka mengenai pendidikan informal dan kegiatan belajar secara mandiri, bukan menetapkan metode membaca, target kecepatan, atau jumlah kata per menit yang wajib dicapai masyarakat.
Konteks lainnya adalah PP No. 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan PP No. 4 Tahun 2022. PP tersebut mengatur standar nasional pendidikan dan penerapannya pada jalur pendidikan formal, nonformal, serta informal.
Namun, peraturan tersebut juga bukan aturan teknis mengenai membaca cepat. Tidak ada ketentuan yang menjadikan skimming, scanning, SQ3R, atau metode membaca tertentu sebagai prosedur wajib bagi masyarakat.
Dengan demikian, pembaca tidak perlu mencari standar resmi pemerintah seperti “minimal 500 kata per menit” untuk berlatih membaca cepat. Angka WPM dapat digunakan sebagai alat ukur latihan pribadi, tetapi bukan sebagai standar hukum atau sertifikasi nasional.
Apakah perlu Permen atau Permendikbudristek?
Untuk artikel mengenai tips membaca cepat, tidak perlu memaksakan peraturan menteri yang tidak secara langsung mengatur teknik membaca.
Peraturan menteri di bidang pendidikan pada umumnya mengatur aspek penyelenggaraan pendidikan tertentu, seperti standar proses, penilaian, tenaga kependidikan, kurikulum, atau aspek pendidikan lainnya. Regulasi tersebut tidak otomatis menjadi dasar hukum untuk teknik membaca cepat.
Karena itu, penyebutan regulasi dalam artikel ini ditempatkan sebagai konteks pendidikan, bukan sebagai dasar hukum sebuah metode membaca.
Apakah Membaca Cepat Membutuhkan Biaya atau Dokumen?
Membaca dan belajar secara mandiri tidak mempunyai biaya administrasi pemerintah. Seseorang juga tidak membutuhkan izin, kartu khusus, sertifikat, atau dokumen tertentu untuk mulai berlatih membaca cepat.
Secara praktis:
- Biaya membaca mandiri: tidak ada biaya administrasi.
- Dokumen: tidak diperlukan.
- Kursus membaca cepat: bersifat opsional.
- Buku atau bahan bacaan: biaya bergantung pada sumber yang digunakan.
- Aplikasi atau alat bantu: dapat digunakan jika diperlukan, tetapi bukan persyaratan.
Dengan demikian, hambatan utama dalam latihan membaca cepat bukan persyaratan administratif, melainkan konsistensi latihan dan kemampuan menyesuaikan strategi dengan jenis bacaan.
Menentukan Tujuan Sebelum Mulai Membaca
Kecepatan membaca sebaiknya ditentukan setelah tujuan membaca jelas. Seseorang yang sedang mencari satu informasi tertentu tentu tidak perlu membaca seluruh buku dengan tingkat ketelitian yang sama.
Sebelum mulai, tanyakan apa yang ingin diperoleh dari buku tersebut. Apakah buku dibaca untuk hiburan, ujian, pekerjaan, penelitian, memahami konsep, atau mencari informasi tertentu?
Tentukan tingkat kedalaman membaca
Secara praktis, pembaca dapat membagi kegiatan membaca menjadi tiga tingkat:
- Skimming, untuk memperoleh gambaran umum.
- Membaca untuk pemahaman, untuk memahami gagasan dan argumentasi.
- Membaca mendalam, untuk memahami detail, bukti, istilah, dan hubungan antargagasan.
Pembagian tersebut membantu menghindari kebiasaan membaca seluruh halaman dengan intensitas yang sama.
Lakukan Preview Sebelum Membaca
Preview merupakan salah satu cara sederhana untuk menghemat waktu. Sebelum membaca halaman demi halaman, lihat terlebih dahulu struktur buku.
Perhatikan:
- judul dan subjudul;
- daftar isi;
- pendahuluan;
- ringkasan atau kesimpulan;
- tabel dan ilustrasi;
- kata kunci;
- indeks;
- catatan kaki atau referensi jika diperlukan.
Dari tahap tersebut, pembaca dapat mengetahui bagian mana yang paling relevan dengan tujuan membaca.
Jika sebuah buku terdiri atas 12 bab tetapi hanya tiga bab yang berkaitan langsung dengan kebutuhan pembaca, seluruh bab tidak selalu harus dibaca dengan tingkat kedalaman yang sama.
Gunakan Teknik Skimming dan Scanning
Skimming untuk memperoleh gambaran umum
Skimming dilakukan dengan membaca bagian yang paling informatif untuk memahami struktur dan gagasan besar suatu teks.
Perhatian dapat diarahkan pada judul, subjudul, kalimat pembuka, kalimat penutup, kata kunci, tabel, dan kesimpulan.
Teknik ini cocok ketika pembaca ingin mengetahui apakah sebuah buku atau bab relevan untuk dipelajari lebih lanjut.
Scanning untuk mencari informasi tertentu
Scanning digunakan ketika pembaca sudah mengetahui informasi apa yang dicari.
Misalnya, pembaca ingin menemukan definisi istilah, angka tertentu, nama tokoh, tanggal, atau bagian yang membahas suatu konsep. Dalam kondisi tersebut, membaca setiap kata dari awal sampai akhir justru kurang efisien.
Jangan Memaksakan Kecepatan pada Semua Jenis Buku
Buku memiliki karakter berbeda sehingga strategi membaca juga perlu disesuaikan.
Buku pelajaran dan akademik
Fokuskan perhatian pada definisi, konsep, contoh, hubungan sebab-akibat, dan kesimpulan. Setelah membaca satu bagian, berhenti sejenak untuk menjelaskan kembali konsep tersebut dengan bahasa sendiri.
Buku nonfiksi populer
Cari tesis atau gagasan utama penulis, kemudian identifikasi argumen dan contoh yang mendukungnya. Bagian yang hanya mengulang gagasan dapat dibaca lebih cepat setelah konsep utamanya dipahami.
Buku hukum dan peraturan
Jenis bacaan ini membutuhkan kehati-hatian. Definisi, frasa pengecualian, pasal, ayat, penjelasan, dan hubungan antaraturan dapat mengubah arti suatu ketentuan.
Karena itu, membaca cepat tidak berarti melewati detail hukum yang menentukan makna.
Buku ilmiah
Pembaca dapat memulai dari abstrak, tujuan penelitian, metode, hasil, pembahasan, dan kesimpulan. Detail teknis kemudian dibaca lebih mendalam jika memang diperlukan.
Novel dan fiksi
Perhatian dapat diarahkan pada alur, karakter, konflik, latar, dan perubahan penting dalam cerita. Namun, bagian yang membangun konteks atau perkembangan karakter sebaiknya tidak dilewati hanya demi mengejar kecepatan.
Membaca Aktif agar Informasi Tidak Sekadar Lewat
Membaca aktif berarti pembaca tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memproses dan mengujinya.
Sebelum membaca, buat beberapa pertanyaan. Misalnya:
- Apa persoalan utama buku ini?
- Apa yang ingin dijelaskan penulis?
- Bukti apa yang digunakan?
- Apa kesimpulannya?
Pertanyaan tersebut membuat pembaca memiliki tujuan selama membaca.
Gunakan active recall
Setelah menyelesaikan satu bagian, tutup buku dan coba jelaskan kembali isinya tanpa melihat teks.
Jika tidak mampu menjelaskan gagasan utama, bagian tersebut mungkin belum benar-benar dipahami. Pembaca kemudian dapat kembali ke bagian yang masih belum jelas tanpa harus mengulang seluruh halaman.
Gunakan metode SQ3R
Metode SQ3R terdiri atas:
Survey → Question → Read → Recite → Review
- Survey: melihat struktur dan gambaran umum buku.
- Question: membuat pertanyaan tentang materi.
- Read: membaca untuk mencari jawaban.
- Recite: menjelaskan kembali informasi dengan bahasa sendiri.
- Review: meninjau ulang gagasan penting.
Metode ini berguna terutama untuk buku pelajaran atau bacaan yang membutuhkan pemahaman sistematis.
Cara Mencatat Tanpa Menghambat Kecepatan Membaca
Mencatat tidak berarti menyalin isi buku. Catatan yang terlalu panjang justru dapat membuat proses membaca menjadi lambat.
Catat hanya hal yang memiliki fungsi, seperti:
- konsep utama;
- fakta penting;
- angka atau data;
- argumentasi;
- kesimpulan;
- pertanyaan yang belum terjawab.
Pembaca dapat menggunakan poin singkat, mind map, tabel, atau format pertanyaan dan jawaban.
Highlight juga perlu digunakan secara selektif. Terlalu banyak bagian yang diberi tanda justru membuat pembaca kesulitan menentukan informasi mana yang paling penting.
Latihan Membaca Cepat di Rumah
Kemampuan membaca dapat dilatih secara bertahap. Tidak perlu langsung menetapkan target kecepatan yang sangat tinggi.
Latihan 10 menit
Pilih satu teks dengan tingkat kesulitan yang sesuai. Atur waktu selama 10 menit, kemudian catat bagian yang berhasil dibaca dan tuliskan tiga gagasan utama.
Tujuannya bukan memaksa diri menyelesaikan sebanyak mungkin kata. Latihan ini digunakan untuk membangun konsentrasi sekaligus mengetahui seberapa banyak informasi yang benar-benar dapat dipahami.
Latihan 20–30 menit
Gunakan pola:
- preview selama beberapa menit;
- tentukan tujuan;
- baca bagian inti;
- tutup buku;
- jelaskan kembali isinya;
- periksa bagian yang masih belum dipahami.
Contoh latihan membaca 30 menit
Misalnya seseorang memiliki waktu 30 menit untuk mempelajari satu bab sepanjang 30 halaman. Pembaca tidak harus memaksa diri membaca seluruh halaman dengan kecepatan yang sama.
Pembagian waktunya dapat dibuat seperti berikut:
- 3 menit: melihat judul, subjudul, daftar isi atau struktur bab;
- 20 menit: membaca bagian inti dengan fokus pada gagasan utama dan penjelasan penting;
- 7 menit: menutup buku, melakukan recall, kemudian kembali melihat bagian yang masih belum dipahami.
Pembagian tersebut bukan standar resmi dan tidak harus digunakan secara persis. Ini hanya contoh strategi agar waktu membaca memiliki tujuan yang jelas.
Latihan Selama Empat Minggu
Pembaca yang ingin membangun kebiasaan dapat menggunakan pola sederhana:
- Minggu pertama: fokus pada konsentrasi dan preview.
- Minggu kedua: berlatih skimming dan scanning.
- Minggu ketiga: memperbanyak membaca aktif dan active recall.
- Minggu keempat: mengukur kecepatan sekaligus pemahaman.
Jika pemahaman turun ketika kecepatan meningkat, turunkan kecepatan dan evaluasi kembali strategi yang digunakan.
Cara Mengukur Kecepatan dan Pemahaman Membaca
Salah satu ukuran yang sering digunakan adalah Words Per Minute (WPM) atau jumlah kata yang dibaca dalam satu menit.
Rumus sederhananya:
WPM = jumlah kata ÷ waktu membaca dalam menit
Namun, WPM bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Kecepatan tinggi tidak banyak berarti jika pembaca tidak mampu menjelaskan kembali isi bacaan.
Setelah membaca, coba jawab:
- Apa gagasan utama teks?
- Apa tiga informasi terpenting?
- Apa argumentasi utama penulis?
- Apa contoh yang digunakan?
- Apa kesimpulannya?
Jika sebagian besar pertanyaan dapat dijawab dengan benar berdasarkan isi bacaan, strategi membaca yang digunakan kemungkinan sudah cukup efektif.
Tabel Perbandingan Teknik Membaca
| Teknik | Tujuan | Kecepatan | Tingkat Pemahaman | Cocok untuk |
|---|---|---|---|---|
| Skimming | Mendapatkan gambaran umum | Tinggi | Dasar–menengah | Buku dan artikel umum |
| Scanning | Menemukan informasi tertentu | Sangat tinggi | Spesifik | Data, angka, fakta |
| Membaca aktif | Memahami isi | Sedang | Tinggi | Buku nonfiksi |
| SQ3R | Pemahaman sistematis | Sedang | Tinggi | Buku pelajaran |
| Membaca mendalam | Analisis detail | Lebih rendah | Sangat tinggi | Buku hukum dan ilmiah |
Alur Singkat Membaca Cepat tetapi Tetap Memahami
Tentukan tujuan → Preview buku → Pilih teknik membaca → Baca aktif → Catat gagasan penting → Tutup buku → Recall → Uji pemahaman → Evaluasi kecepatan
Alur tersebut tidak harus diterapkan secara kaku. Pembaca dapat kembali ke tahap sebelumnya jika menemukan konsep yang belum dipahami.
Perlukah Menghilangkan Subvokalisasi?
Subvokalisasi adalah kecenderungan pembaca mengucapkan kata-kata secara mental ketika membaca dalam hati. Dalam pembahasan membaca cepat, kebiasaan ini sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dihilangkan.
Pendekatan tersebut terlalu sederhana. Membaca dalam hati dapat tetap membantu pemahaman, terutama ketika pembaca menghadapi istilah baru, konsep rumit, bahasa asing, atau materi yang membutuhkan ketelitian.
Karena itu, pembaca tidak perlu memaksakan diri menghilangkan subvokalisasi sepenuhnya. Yang lebih penting adalah mengurangi kebiasaan membaca yang tidak efisien tanpa mengorbankan pemahaman.
Kesalahan yang Membuat Membaca Cepat Tidak Efektif
Kesalahan pertama adalah mengejar jumlah halaman tanpa mengukur pemahaman. Kebiasaan tersebut dapat membuat pembaca merasa produktif, tetapi tidak mampu mengingat isi buku.
Kesalahan berikutnya adalah menggunakan kecepatan yang sama untuk semua bacaan. Materi sederhana dapat dibaca lebih cepat, sedangkan teks hukum, ilmiah, atau teknis sering membutuhkan perhatian lebih besar.
Kesalahan lain yang umum terjadi adalah terlalu banyak melakukan highlight, tidak pernah menguji pemahaman, sering berpindah metode, dan membaca ulang seluruh halaman setiap kali kehilangan fokus.
Risiko Membaca Terlalu Cepat dan Cara Mengatasinya
Membaca terlalu cepat dapat menyebabkan konteks hilang. Solusinya bukan selalu kembali membaca seluruh bab, tetapi memperlambat bagian yang memuat gagasan utama atau konsep yang belum dipahami.
Risiko lain adalah salah memahami argumentasi. Untuk mengatasinya, periksa kembali hubungan antara pernyataan, alasan, bukti, dan kesimpulan.
Informasi juga dapat cepat terlupakan apabila tidak pernah digunakan kembali. Active recall, membuat ringkasan singkat, dan meninjau kembali catatan dapat membantu mempertahankan informasi.
Kelelahan mata dan penurunan konsentrasi juga dapat mengurangi efektivitas membaca. Atur pencahayaan, posisi membaca, ukuran huruf, serta waktu istirahat agar kegiatan membaca tetap nyaman.
Apakah Membaca Cepat Bisa Dilatih?
Membaca cepat dapat dilatih, tetapi hasil setiap orang tidak sama. Kecepatan dipengaruhi oleh kosakata, pengetahuan sebelumnya, kemampuan berkonsentrasi, pengalaman membaca, jenis teks, dan tujuan membaca.
Karena itu, tidak ada satu angka kecepatan yang harus dicapai semua pembaca. WPM sebaiknya digunakan sebagai alat untuk mengukur perkembangan pribadi, bukan sebagai standar tunggal kemampuan membaca.
Indikator keberhasilan yang lebih bermakna adalah kemampuan menyelesaikan bacaan secara efisien sambil tetap dapat menjelaskan, mengingat, dan menggunakan informasi penting.
FAQ Membaca Cepat

Apakah membaca cepat membuat pemahaman berkurang?
Tidak selalu. Pemahaman dapat tetap baik apabila kecepatan disesuaikan dengan tingkat kesulitan materi. Masalah muncul ketika pembaca memaksakan kecepatan yang terlalu tinggi sehingga informasi penting terlewat.
Berapa WPM yang dianggap cepat?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua situasi. WPM sebaiknya digunakan sebagai alat untuk mengukur perkembangan pribadi, bukan sebagai standar hukum atau ukuran tunggal kemampuan membaca.
Apakah membaca cepat cocok untuk buku pelajaran?
Bisa, tetapi tidak semua bagian perlu dibaca dengan kecepatan sama. Konsep utama, definisi, rumus, contoh, dan materi yang kemungkinan diperlukan untuk pembelajaran perlu dibaca lebih teliti.
Apakah semua buku boleh dibaca dengan skimming?
Tidak. Skimming cocok untuk mendapatkan gambaran umum atau menentukan relevansi bacaan. Untuk memahami detail hukum, penelitian ilmiah, atau materi teknis, pembaca perlu membaca lebih mendalam.
Bagaimana cara membaca buku tebal dengan cepat?
Mulailah dari daftar isi dan tentukan tujuan. Kelompokkan bab berdasarkan tingkat kepentingannya, lalu gunakan skimming untuk bagian pendukung dan membaca mendalam untuk bagian inti.
Apakah membaca dengan jari dapat membantu?
Penunjuk visual seperti jari atau pena dapat membantu sebagian pembaca menjaga fokus dan mengarahkan perhatian. Namun, alat tersebut bukan jaminan otomatis bahwa kecepatan membaca akan meningkat.
Apakah subvokalisasi harus dihilangkan?
Tidak harus. Subvokalisasi dapat tetap membantu pemahaman pada materi tertentu. Yang lebih penting adalah menyesuaikan cara membaca dengan jenis teks dan tujuan membaca.
Apakah membaca cepat membutuhkan kursus?
Tidak. Membaca cepat dapat dilatih secara mandiri. Kursus atau tutor merupakan pilihan bagi orang yang membutuhkan struktur latihan dan pendampingan.
Apakah diperlukan sertifikat untuk membaca cepat?
Tidak. Tidak ada sertifikat pemerintah yang menjadi syarat seseorang untuk membaca cepat secara mandiri.
Bagaimana mengetahui bahwa isi buku benar-benar sudah dipahami?
Tutup buku dan jelaskan kembali gagasan utamanya dengan bahasa sendiri. Jika mampu menjawab pertanyaan tentang konsep, argumen, contoh, dan kesimpulan tanpa terus melihat teks, pemahaman kemungkinan sudah lebih baik.
Berapa lama latihan membaca cepat sampai terlihat hasilnya?
Tidak ada jangka waktu yang sama untuk semua orang. Perkembangan bergantung pada frekuensi latihan, kemampuan awal, jenis bacaan, dan konsistensi.
Kesimpulan
Membaca cepat yang efektif bukan perlombaan menyelesaikan buku sebanyak mungkin. Tujuan utamanya adalah menggunakan waktu secara efisien tanpa kehilangan gagasan, konteks, dan informasi yang memang dibutuhkan.
Cara terbaik adalah menentukan tujuan sebelum membaca, melakukan preview, memilih teknik yang sesuai, mempercepat bagian yang mudah, dan memperlambat bagian yang membutuhkan pemahaman mendalam.
Skimming dan scanning dapat membantu menemukan informasi dengan cepat, sedangkan membaca aktif, SQ3R, pencatatan selektif, dan active recall membantu memastikan informasi tidak sekadar melewati ingatan.
Dalam konteks hukum pendidikan Indonesia, kegiatan belajar secara mandiri memang diakui dalam pendidikan informal, tetapi peraturan pendidikan tidak menetapkan teknik membaca cepat atau target WPM tertentu bagi masyarakat. Karena itu, pembaca dapat memilih strategi yang sesuai dengan kebutuhan tanpa menganggap satu metode sebagai standar resmi.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukan hanya berapa banyak halaman yang selesai dibaca, melainkan seberapa baik pembaca memahami, mengingat, menjelaskan, dan menggunakan pengetahuan yang diperoleh dari buku.
Disclaimer
Artikel ini bertujuan untuk edukasi dan informasi umum mengenai strategi membaca dan pembelajaran mandiri. Informasi mengenai regulasi pendidikan disajikan sebagai konteks umum dan bukan pengganti konsultasi resmi dengan kementerian, lembaga pendidikan, atau ahli hukum apabila pembaca membutuhkan penafsiran hukum atau kepastian mengenai kasus tertentu.
Baca Juga
- Cara Memanfaatkan Teknologi Digital untuk Meningkatkan Efektivitas Belajar Mengajar
- Belajar Bahasa Asing Secara Otodidak dari Rumah Hingga Lancar
- Tips Mengatasi Rasa Malas Belajar dengan Metode Pomodoro
- Cara Menumbuhkan Minat Baca Anak Sejak Dini Tanpa Paksaan
- Cara Mengatur Waktu Belajar di Tengah Padatnya Aktivitas
Penulis: Iwan Gunesa

Iwan Gunesa aktif sebagai jurnalis di Aksi sejak 2021 dan tergabung dalam Jurnalis Bela Negara (JBN). Ia memiliki pengalaman menulis untuk media majalah dan media digital dengan fokus liputan Pendidikan dan edukasi.






