Silaturahmi Milangkala ke-84 Abah Alam, Momentum Merawat Tradisi dan Memperkuat Identitas Budaya

Mokhammad Gun Gun

CIMAHI – Suasana hangat dan penuh khidmat menyelimuti GOR Siliwangi (Balai Prajurit Siliwangi), Gunung Bohong, Kota Cimahi, dalam gelaran Silaturahmi dan Tasyakur Binni’mah Milangkala ke-84 Ramanda Adhitiya Alam Syah atau yang dikenal sebagai Abah Alam, Senin (4/5/2026).

Acara ini tidak sekadar menjadi peringatan usia, melainkan menjelma sebagai ruang refleksi bersama, penghormatan terhadap tokoh budaya, serta penguatan nilai-nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

Tokoh Lintas Sektor Hadiri Perayaan

Kegiatan tersebut mendapat dukungan dari Komandan Brigade Infanteri 15/Kujang II, Kolonel Inf Bayu Anjas Asmoro, serta dihadiri oleh Wali Kota Cimahi, Ngatiyana. Sejumlah tokoh penting dari berbagai sektor juga tampak hadir, mulai dari unsur militer, pemerintahan, hingga dunia usaha.

Kehadiran para tokoh ini menunjukkan luasnya pengaruh Abah Alam, yang selama ini dikenal sebagai figur pemersatu lintas kalangan. Relasi yang dibangun tidak hanya terbatas pada komunitas budaya, tetapi juga menjangkau sektor strategis nasional.

Peran Sesepuh dalam Menjaga Kearifan Lokal

Dalam sambutannya, Wali Kota Cimahi Ngatiyana menegaskan bahwa milangkala Abah Alam menjadi pengingat penting akan peran sesepuh dalam menjaga warisan budaya di tengah arus modernisasi.

Ia menyebut Abah Alam sebagai sosok yang konsisten merawat nilai-nilai kearifan lokal serta menjadi panutan bagi masyarakat.

“Semoga Abah Alam selalu diberikan kesehatan dan terus menjadi inspirasi dalam menjaga budaya dan kebersamaan,” ujarnya.

Ngatiyana juga menyoroti pentingnya keberadaan tokoh budaya dalam menjaga identitas daerah, khususnya di wilayah perkotaan yang rentan terhadap pergeseran nilai tradisional.

Baca Juga: Kerusuhan Mayday 2026 di Bandung, Aksi Anarkis Picu Gerakan “Jaga Lembur” Forum Ormas Jabar

Simbol Kujang dan Identitas Budaya Sunda

Salah satu kontribusi nyata Abah Alam yang mendapat perhatian adalah gagasan pemasangan simbol Kujang di puncak Gunung Bohong. Kujang seberat sekitar 1,5 ton tersebut menjadi representasi kuat identitas budaya Sunda di Cimahi.

Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara Abah Alam dan Brigade Infanteri 15/Kujang II, yang mencerminkan sinergi antara unsur budaya dan institusi negara.

“Inisiatif ini bukan hanya simbolik, tetapi juga bentuk nyata dalam memperkuat jati diri budaya lokal,” kata Ngatiyana.

Kebersamaan sebagai Fondasi Sosial

Silaturahmi Milangkala ke-84 Abah Alam, Momentum Merawat Tradisi dan Memperkuat Identitas Budaya

Lebih jauh, Ngatiyana menekankan bahwa nilai kebersamaan yang diwariskan Abah Alam menjadi fondasi penting dalam menjaga keharmonisan masyarakat.

Menurutnya, pendekatan inklusif yang merangkul berbagai kalangan merupakan kunci dalam menciptakan lingkungan yang aman, harmonis, dan berkarakter.

Momentum milangkala ini pun dimanfaatkan sebagai ajang mempererat hubungan antar komunitas, termasuk kehadiran organisasi masyarakat dan insan pers yang turut memberikan dukungan.

Baca Juga: Forum Inisiator HKTI Jawa Barat Desak Rekonsiliasi, Musda Ditargetkan Mei 2026

Komitmen Pelestarian Budaya ke Depan

Di usianya yang ke-84, Abah Alam masih menunjukkan semangat yang kuat dalam memperjuangkan pelestarian budaya. Salah satu rencana besarnya adalah pembangunan Gedung Kebudayaan di Lapangan Darongdong, Buahdua, Kabupaten Sumedang.

Gedung tersebut dirancang sebagai pusat kegiatan budaya dan edukasi, sekaligus menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan melestarikan warisan tradisi.

Selain itu, Abah Alam juga terus mendorong pentingnya sinergi antara TNI dan masyarakat, serta menaruh perhatian pada isu ketahanan pangan di tingkat desa.

Baginya, kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik, tetapi juga oleh kekuatan budaya dan kemandirian masyarakat.

Simbol Keteguhan di Tengah Perubahan Zaman

Milangkala ke-84 Abah Alam menjadi bukti bahwa usia bukanlah batas untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi masyarakat.

Figur Abah Alam hadir sebagai simbol keteguhan, penjaga nilai-nilai tradisi, sekaligus penggerak kebersamaan di tengah dinamika zaman yang terus berubah.

Perayaan ini tidak hanya meninggalkan kesan seremonial, tetapi juga pesan kuat bahwa budaya tetap memiliki tempat penting dalam pembangunan sosial.