Pagi di Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), terasa berbeda dari biasanya. Sejak sebelum matahari meninggi, masyarakat sudah berkumpul di sekitar lokasi peresmian Museum Ibu Marsinah. Sebagian datang karena rasa penasaran, sebagian lain membawa ingatan panjang tentang satu nama yang selama puluhan tahun melekat dalam sejarah gerakan buruh Indonesia: Marsinah.
Presiden Prabowo Subianto tiba sekitar pukul 08.58 WIB dengan menaiki kendaraan Maung berwarna gelap. Mengenakan safari krem dan topi biru, Prabowo menyapa warga yang berdiri di sepanjang akses masuk lokasi. Sejumlah pendukung meneriakkan yel-yel dan melambaikan tangan ketika iring-iringan kendaraan melambat memasuki area museum.
Di pintu utama, Prabowo disambut Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea, yang menjadi penggagas pembangunan museum tersebut, bersama Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi.
Museum itu sendiri berdiri tidak jauh dari kawasan yang selama ini dikenal sebagai bagian dari perjalanan hidup Marsinah—buruh perempuan yang kematiannya pada 1993 menjadi salah satu simbol paling kuat dalam sejarah perjuangan hak pekerja di Indonesia.
Ruang Ingatan yang Dibangun dari Iuran Buruh
Di dalam museum, suasana terasa lebih hening. Beberapa foto hitam putih terpajang berdampingan dengan potongan arsip koran lama, dokumen pemberitaan, hingga barang-barang pribadi yang disebut berkaitan dengan Marsinah.
Andi Gani terlihat mendampingi Prabowo menyusuri ruangan demi ruangan. Kepada Presiden, ia menjelaskan bahwa pembangunan museum dilakukan tanpa menggunakan anggaran negara.
“Terima kasih, Pak, atas nama buruh Indonesia. SPSI mengapresiasi membangun museum ini tanpa APBN. Jadi iuran buruh,” kata Andi Gani.
Ia menyebut pembangunan museum diselesaikan dalam waktu sekitar empat bulan. Selain museum, di area yang sama juga dibangun rumah singgah yang diperuntukkan bagi peziarah dan pengunjung dari luar daerah.
Di salah satu sudut ruangan, terpajang pakaian terakhir yang disebut dikenakan Marsinah. Di dekatnya terdapat dokumentasi berbagai pemberitaan media pada masa kasus itu mencuat secara nasional.
“Ini sejarah yang penting untuk diketahui generasi sekarang,” ujar Andi Gani sambil menunjukkan deretan arsip kepada Presiden.
Bagi sebagian aktivis buruh, museum ini bukan hanya tempat menyimpan benda atau foto lama. Ia dipandang sebagai ruang untuk menjaga memori kolektif tentang perjuangan pekerja, terutama pada masa ketika kebebasan berserikat dan menyuarakan hak masih menghadapi tekanan besar.
Marsinah dan Jejak Panjang Gerakan Buruh
Nama Marsinah bukan sekadar catatan sejarah. Hingga hari ini, ia masih menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dalam relasi industrial di Indonesia.
Marsinah adalah buruh pabrik di Sidoarjo yang dikenal vokal memperjuangkan hak pekerja. Ia ditemukan meninggal dunia pada Mei 1993 setelah sempat hilang usai terlibat dalam aksi menuntut kenaikan upah. Kasus kematiannya memicu perhatian nasional dan internasional, sekaligus menjadi salah satu titik penting dalam sejarah gerakan buruh Indonesia menjelang era reformasi.
Meski lebih dari tiga dekade berlalu, kasus tersebut masih menyisakan luka dan pertanyaan di ruang publik. Karena itu, peresmian museum ini membawa makna yang melampaui seremoni formal.
Kehadiran keluarga Marsinah juga memberi nuansa emosional tersendiri. Kakak kandung Marsinah, Marsini, serta adiknya, Wijiyati, hadir langsung menyaksikan peresmian museum yang dibangun untuk mengenang perjalanan hidup anggota keluarga mereka.
Di tengah suasana acara, beberapa tamu terlihat berbincang pelan sambil memperhatikan foto-foto lama yang dipajang di dinding museum. Tidak sedikit pengunjung yang berhenti cukup lama di depan dokumentasi pemberitaan tahun 1993—periode ketika nama Marsinah menjadi simbol keberanian sekaligus tragedi.
Negara, Buruh, dan Upaya Merawat Memori

Peresmian museum ini juga dibaca sebagai sinyal politik dan sosial mengenai hubungan negara dengan gerakan buruh. Dalam beberapa tahun terakhir, isu ketenagakerjaan kembali menjadi perdebatan besar, mulai dari persoalan upah, outsourcing, hingga perlindungan pekerja informal.
Di tengah dinamika tersebut, kehadiran Presiden dalam peresmian Museum Marsinah memunculkan pesan simbolik bahwa sejarah gerakan buruh memiliki tempat dalam narasi kebangsaan.
Sejumlah pejabat tinggi negara turut hadir dalam acara itu, di antaranya Kapolri Listyo Sigit Prabowo, Panglima TNI Agus Subiyanto, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, hingga Sekjen ITUC Asia Pacific Shoya Yoshida.
Hadir pula sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, termasuk Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dan Menteri Hukum Supratman Andi Agtas.
Kehadiran para pejabat tersebut menunjukkan bahwa isu buruh tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan sektoral, melainkan bagian dari diskursus sosial dan politik yang lebih luas.
Baca Juga: MK Tegaskan Jakarta Masih Ibu Kota, DPR Nilai Tak Ada Dampak Baru terhadap UU IKN
Lebih dari Sekadar Museum
Di banyak negara, museum tentang gerakan sosial sering menjadi ruang refleksi publik. Ia bukan hanya tempat menyimpan sejarah, tetapi juga pengingat tentang nilai-nilai yang pernah diperjuangkan masyarakat.
Museum Marsinah tampaknya diarahkan ke fungsi semacam itu. Di tengah generasi muda yang semakin jauh dari konteks sejarah 1990-an, ruang seperti ini berpotensi menjadi jembatan antara ingatan masa lalu dan perdebatan ketenagakerjaan hari ini.
Di luar gedung museum, kerumunan warga masih bertahan hingga acara selesai. Sebagian mengabadikan momen lewat telepon genggam, sebagian lain sekadar ingin melihat lebih dekat sosok Presiden.
Namun di balik hiruk-pikuk seremoni, ada satu hal yang terasa menonjol: nama Marsinah ternyata belum benar-benar hilang dari ingatan publik.
Dan mungkin, itulah alasan museum ini dibangun—agar sejarah tentang keberanian seorang buruh perempuan tidak berhenti menjadi arsip, melainkan tetap hidup sebagai pengingat bagi generasi berikutnya.
Baca Juga: Penumpang Terjatuh di Jalur Stasiun Manggarai, KAI Commuter Soroti Keselamatan di Area Peron
Penulis: Redaksi Nasional
Editor: Tim Editorial
Related posts:
Eka Santosa Dorong Perlindungan Budaya Sunda melalui HKI Komunal, Warisan Adat Kini Mendapat Pengaku...
BOMA Anugerahkan Gelar “Satria Adhyaksa Nusantara” kepada Jaksa Agung, Simbol Sinergi Budaya dan Pen...
Ancaman PHK Menguat, 5 Sektor Industri Ini Berisiko dalam 3 Bulan ke Depan
MK Tegaskan Jakarta Masih Ibu Kota, DPR Nilai Tak Ada Dampak Baru terhadap UU IKN
Idul Adha 2026 dan Upaya Menjaga Keseragaman Penanggalan Islam di Indonesia
Ombudsman dan KPK Perkuat Kolaborasi, Soroti Pencegahan Korupsi dari Meja Pelayanan Publik

Redaksi Nasional aksi.me menyajikan berita terkini seputar peristiwa nasional, kebijakan pemerintah, isu publik, sosial, dan perkembangan penting di Indonesia secara profesional dan terpercaya.






