Demam merupakan gejala yang dapat muncul pada berbagai kondisi kesehatan. Salah satunya adalah dengue, yang di Indonesia dikenal luas sebagai demam berdarah dengue (DBD).
Perbedaan demam berdarah dan demam biasa tidak selalu dapat dikenali hanya dari tinggi rendahnya suhu tubuh. Gejala dengue dapat menyerupai penyakit lain yang menyebabkan demam, sehingga pemeriksaan tenaga kesehatan tetap penting untuk memastikan penyebabnya.
Istilah “demam biasa” bukan diagnosis medis tertentu. Sebutan tersebut umumnya digunakan untuk demam akibat berbagai kondisi, sedangkan dengue merupakan infeksi virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes, terutama Aedes aegypti.
Apa Perbedaan Demam Berdarah dan Demam Biasa?
Dengue dapat menyebabkan demam tinggi yang muncul mendadak. WHO mencatat gejala yang umum meliputi sakit kepala, nyeri di belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual atau muntah, ruam, serta rasa lelah.
Demam akibat penyakit lain dapat memiliki pola dan gejala yang berbeda. Karena terdapat gejala yang saling tumpang tindih, tidak tepat menyimpulkan seseorang mengalami DBD hanya berdasarkan suhu tubuh atau satu gejala tertentu.
Apa yang Dimaksud dengan Demam Berdarah?
Dengue adalah infeksi virus yang ditularkan oleh nyamuk yang membawa virus dengue. Penyakit ini dapat berlangsung ringan, tetapi sebagian pasien dapat mengalami dengue berat yang membutuhkan pemantauan dan penanganan medis.
Menurut WHO, gejala dengue umumnya muncul sekitar 4–10 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi dan dapat berlangsung selama 2–7 hari. Namun, tidak semua orang yang terinfeksi mengalami gejala dengan tingkat keparahan yang sama.
Mengapa Demam Biasa Sulit Dibedakan dari Dengue?
Kesamaan gejala menjadi salah satu penyebabnya. Demam, sakit kepala, rasa lelah, nyeri tubuh, mual, atau muntah dapat ditemukan pada berbagai penyakit.
CDC menyarankan dengue dipertimbangkan pada orang yang mengalami demam dan tinggal atau baru bepergian ke wilayah berisiko dengue. Pemeriksaan laboratorium dapat digunakan untuk membantu memastikan infeksi, dengan jenis pemeriksaan disesuaikan berdasarkan fase penyakit.
Apa Saja Ciri yang Perlu Diperhatikan?
| Ciri | Dengue/DBD | Demam karena penyebab lain |
|---|---|---|
| Demam | Sering tinggi dan mendadak | Bervariasi |
| Sakit kepala | Dapat terjadi | Dapat terjadi |
| Nyeri belakang mata | Dapat terjadi | Tidak khas |
| Nyeri otot/sendi | Dapat terjadi | Dapat terjadi |
| Mual/muntah | Dapat terjadi | Dapat terjadi |
| Ruam | Dapat muncul | Bergantung penyebab |
| Perdarahan | Dapat menjadi tanda bahaya | Tidak khas |
| Diagnosis | Memerlukan penilaian medis dan dapat memerlukan pemeriksaan laboratorium | Bergantung penyebab |
Tabel tersebut bukan alat untuk mendiagnosis secara mandiri. Gejala klinis perlu dinilai secara keseluruhan karena dengue dapat menyerupai penyakit lain yang menyebabkan demam.
Kapan Demam Harus Segera Diperiksakan?
Salah satu hal yang penting diperhatikan adalah kondisi ketika demam mulai turun. Turunnya suhu tubuh tidak selalu berarti penderita dengue sudah sembuh.
Pada dengue, tanda peringatan dapat muncul sekitar fase ketika demam mereda. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi dengue berat sehingga memerlukan pemantauan dan pertolongan medis.
Apakah Demam Tinggi Pasti DBD?
Tidak. Demam tinggi dapat disebabkan berbagai penyakit sehingga tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami dengue.
Dengue perlu dinilai berdasarkan kondisi keseluruhan pasien, termasuk gejala, pemeriksaan klinis, riwayat paparan, serta pemeriksaan laboratorium apabila diperlukan.
Apakah Demam Turun Berarti DBD Sudah Sembuh?
Tidak selalu. Fase ketika demam mulai mereda justru perlu diperhatikan karena tanda bahaya dengue dapat muncul pada periode tersebut.
Tanda peringatan antara lain nyeri atau nyeri tekan pada perut, muntah terus-menerus, perdarahan pada mukosa seperti gusi atau hidung, penumpukan cairan, lemas, gelisah, serta pembesaran hati. CDC juga memasukkan tanda-tanda tersebut sebagai kondisi yang membutuhkan pemantauan lebih ketat.
Perdarahan berat, gangguan pernapasan akibat kebocoran plasma, syok, atau gangguan organ merupakan kondisi yang dapat terjadi pada dengue berat dan membutuhkan penanganan segera.
Bagaimana DBD Dikonfirmasi?
Diagnosis dengue tidak sebaiknya ditentukan hanya berdasarkan gejala atau satu hasil pemeriksaan darah, seperti jumlah trombosit.
Tenaga kesehatan mempertimbangkan riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, perjalanan gejala, serta pemeriksaan laboratorium yang sesuai dengan fase infeksi. CDC menyebut pemeriksaan seperti tes amplifikasi asam nukleat, antigen NS1, dan antibodi IgM dapat digunakan sesuai waktu pemeriksaan dan kondisi klinis.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Saat Curiga Dengue?
Jika mengalami demam dan terdapat kemungkinan paparan dengue, pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan dapat membantu menentukan diagnosis dan kebutuhan pemantauan.
Untuk dengue tanpa tanda bahaya, penanganan dapat mencakup istirahat dan pemenuhan cairan sesuai kondisi pasien. CDC merekomendasikan pemantauan pasien berdasarkan kondisi klinis dan keberadaan tanda peringatan.
Obat untuk menurunkan demam atau nyeri juga perlu digunakan secara tepat. Pada dugaan dengue, aspirin dan obat antiinflamasi nonsteroid tertentu seperti ibuprofen perlu dihindari karena dapat meningkatkan risiko perdarahan; pilihan obat sebaiknya mengikuti anjuran tenaga kesehatan.
Jika muncul tanda bahaya, segera mencari pertolongan medis dan jangan menunggu kondisi memburuk.
Kesimpulan
Perbedaan demam berdarah dan demam biasa tidak dapat ditentukan hanya dari tinggi rendahnya suhu tubuh. Dengue dapat menyebabkan demam tinggi, sakit kepala, nyeri belakang mata, nyeri otot dan sendi, mual, muntah, serta ruam, tetapi gejala tersebut tidak secara otomatis membuktikan seseorang mengalami DBD.
Hal yang perlu mendapat perhatian khusus adalah munculnya tanda bahaya ketika demam mulai mereda. Nyeri perut, muntah terus-menerus, perdarahan, lemas berat, atau gangguan kondisi lainnya memerlukan penilaian medis segera.
Dengan demikian, informasi mengenai gejala sebaiknya digunakan untuk mengenali kapan membutuhkan pemeriksaan, bukan sebagai dasar untuk melakukan diagnosis sendiri.
Disclaimer Kesehatan: Artikel ini bersifat informatif dan tidak menggantikan diagnosis, pemeriksaan, atau saran dari dokter maupun tenaga kesehatan. Jika mengalami demam dengan gejala yang mengarah pada dengue, terutama disertai tanda bahaya, segera berkonsultasi dengan fasilitas pelayanan kesehatan.
Sumber utama: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Centers for Disease Control and Prevention (CDC), dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Baca Juga
- Aedes aegypti: Ciri, Habitat, Siklus Hidup, dan Cara Mencegah
- Cara Mencegah Demam Berdarah di Rumah: Panduan Lengkap 3M Plus
- Kemenkes Catat 23 Kasus Hantavirus di Indonesia, Tiga Pasien Meninggal
-
Apa Itu Wolbachia? Cara Kerja dan Perannya Mengendalikan Dengue
Penulis: Ken Zanindha

Ken Zanindha adalah jurnalis Aksi.me yang berfokus pada liputan ekonomi, industri, dan kebijakan publik. Berbekal latar belakang pendidikan komunikasi dari STIKOM Bandung serta pengalaman sebagai reporter di sejumlah televisi lokal, ia menulis berita dan analisis yang mengutamakan akurasi, verifikasi, dan relevansi bagi pembaca.






