SBY Soroti Tekanan di Pasar Modal dan Nilai Tukar, Ajak Semua Pihak Jaga Kepercayaan Ekonomi

Redaksi Ekonomi

Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono menyoroti situasi pasar modal dan pasar uang Indonesia yang dinilainya sedang berada dalam tekanan. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap pergerakan nilai tukar rupiah, fluktuasi indeks saham, serta ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi sejumlah negara berkembang.

Melalui akun X pribadinya, Selasa (12/5/2026), SBY mengaku tetap mengikuti perkembangan ekonomi nasional meski tengah berada di Magelang untuk melukis—aktivitas yang belakangan kerap ia tampilkan di ruang publik.

“Saya, sambil melukis di Magelang, mengikuti perkembangan dan dinamika pasar. Baik pasar modal maupun pasar uang. Memang, kurang menggembirakan,” tulisnya.

Tekanan Pasar Dinilai Masih Bisa Dikendalikan

Pernyataan SBY datang pada saat pelaku pasar tengah mencermati tekanan eksternal yang memengaruhi stabilitas ekonomi domestik. Dalam beberapa pekan terakhir, pasar keuangan Indonesia bergerak cukup sensitif terhadap dinamika global, mulai dari arah suku bunga Amerika Serikat hingga ketegangan geopolitik yang berdampak pada arus modal dan sentimen investor.

Meski mengakui kondisi yang tidak ideal, SBY menilai situasi tersebut masih bisa dikendalikan selama pemerintah bergerak cepat dan mampu menjaga kepercayaan publik maupun pasar.

“Tetapi, saya berpendapat, tekanan ekonomi yang lebih berat masih dapat dicegah. Tentu something must be done. Kita masih memiliki political & economic resources. Opsi & solusi masih tersedia,” lanjutnya.

Menurut SBY, Indonesia masih memiliki modal politik dan ekonomi yang cukup untuk menghadapi tekanan yang ada. Karena itu, berbagai langkah kebijakan dinilai masih terbuka untuk ditempuh selama dilakukan secara terukur dan melibatkan banyak pihak.

SBY Tekankan Pentingnya Soliditas Nasional

Nada yang digunakan SBY terbilang hati-hati. Ia tidak secara langsung melontarkan kritik keras terhadap pemerintah, melainkan memilih menekankan pentingnya soliditas antarpemangku kepentingan dalam menghadapi tekanan ekonomi yang mulai terasa di berbagai sektor.

Dalam pandangannya, tantangan ekonomi tidak bisa diselesaikan hanya oleh pemerintah semata. Dunia usaha, ekonom, regulator, hingga pelaku pasar perlu bergerak dalam arah yang sama untuk menjaga stabilitas dan membangun kembali rasa percaya.

“Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, pemerintah, dunia usaha, para ekonom dan seluruh pemangku kepentingan must be on board. In crucial things unity. Mutual trust mesti dibangun bersama,” tulisnya.

Pernyataan tersebut dibaca banyak kalangan sebagai sinyal politik yang menenangkan. Sebagai mantan presiden yang memimpin Indonesia pada masa krisis finansial global 2008, SBY memiliki pengalaman menghadapi gejolak ekonomi internasional yang cukup berat.

Baca Juga: Bahlil Tunda Rencana Kenaikan Royalti Tambang, Pemerintah Cari Formula yang “Sama-sama Untung”

Pasar Tidak Hanya Membaca Data Ekonomi

SBY Soroti Tekanan di Pasar Modal dan Nilai Tukar
Dalam kondisi seperti itu, komunikasi pemerintah menjadi faktor penting. Pasar tidak hanya membaca data ekonomi, tetapi juga memperhatikan konsistensi kebijakan dan kemampuan negara menjaga stabilitas politik maupun fiskal.

Sejumlah analis menilai pernyataan SBY mencerminkan perlunya membangun optimisme tanpa mengabaikan realitas. Sikap terlalu defensif dapat memicu kepanikan, sementara optimisme tanpa langkah konkret justru bisa mengikis kepercayaan pasar.

Karena itu, ajakan untuk menjaga kebersamaan dan mutual trust dinilai relevan di tengah meningkatnya sensitivitas pasar terhadap berbagai sinyal ekonomi dan politik.

Baca Juga: OJK Minta Investor Tetap Tenang Menjelang Evaluasi MSCI Indonesia

Dukungan terhadap Pemerintah Dinilai Penting

Di akhir pernyataannya, Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat itu mengajak masyarakat tetap memberi ruang bagi pemerintah untuk bekerja menghadapi situasi yang ada.

“Mari kita berikan kesempatan dan dukungan kepada pemerintah. Insya Allah Indonesia bisa,” tulisnya.

Di tengah dinamika ekonomi yang cepat berubah, pesan seperti ini menunjukkan bahwa stabilitas tidak hanya dibangun melalui angka-angka makroekonomi, tetapi juga melalui kemampuan menjaga kepercayaan publik. Dalam banyak kasus, kepercayaan menjadi faktor pertama yang diuji ketika tekanan ekonomi mulai terasa di pasar.


Penulis: Redaksi Ekonomi
Editor: Tim Editorial