Mencari usaha yang tidak pernah sepi menjadi pertanyaan yang sering muncul ketika seseorang ingin memulai bisnis. Istilah tersebut sebenarnya tidak berarti ada jenis usaha yang dijamin selalu ramai, karena setiap bisnis tetap menghadapi persaingan, perubahan daya beli, musim, lokasi, dan perubahan perilaku konsumen.
Yang lebih tepat adalah mencari usaha dengan kebutuhan yang terus berulang, pasar yang jelas, serta model bisnis yang mampu menghasilkan pelanggan kembali. Dengan pendekatan tersebut, calon pelaku usaha dapat menilai peluang secara lebih rasional daripada sekadar mengikuti bisnis yang sedang viral.
Ringkasan Cepat
- Tidak ada usaha yang dapat dijamin selalu ramai sepanjang waktu.
- Usaha dengan kebutuhan berulang cenderung mempunyai peluang permintaan yang lebih stabil.
- Makanan, sembako, laundry, perawatan kendaraan, jasa perawatan pribadi, pendidikan, dan sejumlah jasa digital merupakan contoh sektor yang dapat memiliki pelanggan berulang.
- Tingginya omzet tidak otomatis berarti usaha menghasilkan laba.
- Lokasi, daya beli, persaingan, kualitas layanan, harga, dan kemampuan mempertahankan pelanggan sangat menentukan.
- Pelaku usaha perlu menghitung modal, biaya operasional, margin, arus kas, serta titik impas sebelum memulai.
- Legalitas usaha perlu disesuaikan dengan kegiatan usaha dan tingkat risikonya.
- PP No. 28 Tahun 2025 menjadi dasar penting penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko dan menggantikan PP No. 5 Tahun 2021.
- Pemilihan KBLI harus sesuai dengan kegiatan usaha sebenarnya karena setiap kegiatan dapat memiliki tingkat risiko dan persyaratan yang berbeda.
Apa yang Dimaksud dengan “Usaha yang Tidak Pernah Sepi”?
Istilah “usaha yang tidak pernah sepi” lebih tepat dipahami sebagai istilah populer, bukan jaminan ekonomi.
Dalam praktiknya, tidak ada bisnis yang bebas dari risiko penurunan pelanggan. Bahkan kebutuhan pokok sekalipun dapat mengalami perubahan permintaan akibat harga, kondisi ekonomi, persaingan, musim, atau perubahan pola konsumsi.
Karena itu, ukuran yang lebih rasional adalah melihat apakah sebuah usaha menyediakan produk atau jasa yang dibutuhkan berulang kali.
Misalnya, seseorang mungkin membeli pakaian hanya beberapa kali dalam setahun. Namun, kebutuhan makan, mencuci pakaian, memperbaiki kendaraan, membeli kebutuhan rumah tangga, atau menggunakan layanan tertentu dapat terjadi secara berulang.
Tidak Semua Usaha Ramai Memiliki Model Bisnis yang Sehat
Usaha dapat terlihat ramai tetapi belum tentu menghasilkan keuntungan.
Sebuah restoran, misalnya, bisa memiliki banyak pelanggan tetapi menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk bahan baku, sewa, tenaga kerja, promosi, listrik, dan biaya platform.
Karena itu, calon pelaku usaha perlu membedakan keramaian pelanggan, omzet, laba, dan arus kas. Keempatnya merupakan indikator yang berbeda.
Usaha Viral Berbeda dengan Usaha Berbasis Kebutuhan
Bisnis yang viral dapat menghasilkan permintaan tinggi dalam waktu singkat. Namun, ketika tren berakhir, jumlah pelanggan dapat turun secara drastis.
Sebaliknya, bisnis yang menjawab kebutuhan rutin mungkin tidak selalu terlihat spektakuler, tetapi memiliki peluang menghasilkan pelanggan berulang.
Ciri-Ciri Usaha dengan Permintaan Relatif Stabil
1. Menjual Kebutuhan yang Berulang
Semakin sering suatu produk atau jasa dibutuhkan, semakin besar peluang terjadinya pembelian kembali.
Contohnya adalah makanan, kebutuhan rumah tangga, laundry, perawatan kendaraan, jasa potong rambut, dan sejumlah layanan profesional.
Namun, frekuensi kebutuhan tetap harus dikaitkan dengan daya beli dan kondisi pasar lokal.
2. Memiliki Pelanggan Berulang
Pelanggan lama dapat menjadi sumber pendapatan yang penting karena biaya mempertahankan pelanggan umumnya berbeda dari biaya memperoleh pelanggan baru.
Bisnis yang mampu menjaga kualitas dan pelayanan memiliki peluang lebih besar membangun basis pelanggan tetap.
3. Tidak Bergantung pada Satu Tren
Usaha yang produknya tetap dibutuhkan ketika tren berubah cenderung memiliki fondasi permintaan yang lebih kuat.
Ini bukan berarti bisnis tersebut pasti berhasil. Persaingan dan perubahan teknologi tetap dapat mengubah struktur pasar.
4. Memiliki Pasar yang Jelas
Lokasi sangat penting untuk sejumlah usaha.
Warung makan di kawasan perkantoran memiliki karakter pasar berbeda dengan warung di sekitar sekolah. Laundry di kawasan kos juga mempunyai pola permintaan yang berbeda dari laundry di kawasan perumahan keluarga.
5. Mempunyai Margin yang Memadai
Omzet besar tidak berarti laba besar.
Pelaku usaha harus mengetahui berapa biaya untuk menghasilkan atau memperoleh barang, berapa biaya operasional, dan berapa keuntungan bersih yang tersisa setelah seluruh pengeluaran.
Jenis Usaha yang Berpotensi Memiliki Permintaan Berulang
Usaha Makanan dan Minuman
Makanan dan minuman merupakan salah satu sektor yang memiliki frekuensi pembelian tinggi karena kebutuhan makan terjadi secara rutin.
Model bisnisnya dapat berupa warung makan, katering, makanan siap saji, makanan rumahan, atau minuman.
Namun, persaingannya juga tinggi. Pelaku usaha perlu memperhatikan rasa, harga, kebersihan, konsistensi, lokasi, pelayanan, dan kemampuan mengendalikan bahan baku.
Untuk bisnis makanan, produk yang tidak terjual juga dapat menjadi biaya karena memiliki masa simpan terbatas.
Sembako dan Kebutuhan Rumah Tangga
Kebutuhan seperti beras, telur, minyak goreng, air minum, produk kebersihan, dan berbagai kebutuhan rumah tangga mempunyai karakter pembelian berulang.
Keunggulannya adalah konsumen memang membutuhkan produk tersebut. Tantangannya, margin pada sebagian barang dapat relatif tipis sehingga pengelolaan stok, harga beli, dan perputaran modal menjadi sangat penting.
Bisnis sembako tidak cukup hanya ramai pembeli. Pelaku usaha harus memastikan uang tidak terlalu lama tertahan dalam persediaan.
Laundry
Laundry dapat memiliki pelanggan berulang, terutama di wilayah dengan banyak kos, mahasiswa, pekerja, apartemen, atau masyarakat dengan mobilitas tinggi.
Selain laundry kiloan, terdapat peluang pada laundry sepatu, pakaian tertentu, perlengkapan rumah tangga, atau layanan lain sesuai kebutuhan pasar.
Faktor pentingnya meliputi kualitas pencucian, ketepatan waktu, kebersihan, keamanan pakaian, harga, dan kapasitas mesin.
Bengkel dan Perawatan Kendaraan
Kendaraan membutuhkan perawatan berkala. Hal tersebut menciptakan peluang bagi bengkel, penggantian oli, layanan ban, aki, pencucian, dan perawatan kendaraan lainnya.
Kepercayaan menjadi faktor utama. Konsumen cenderung kembali ke tempat yang dianggap jujur, transparan dalam memberikan informasi kerusakan, dan menghasilkan pekerjaan yang baik.
Kebutuhan peralatan dan keterampilan teknisi juga membuat modal awal sektor ini dapat lebih besar dibandingkan usaha jasa sederhana.
Jasa Perawatan Pribadi
Barbershop, salon, jasa jahit, dan berbagai layanan perawatan pribadi dapat memperoleh pelanggan berulang apabila kualitas layanan konsisten.
Dalam bisnis seperti ini, hubungan dengan pelanggan memiliki nilai penting. Pelayanan yang baik dapat menciptakan kebiasaan kunjungan secara berkala.
Pendidikan dan Kursus
Les akademik, kursus bahasa, keterampilan digital, komputer, atau musik dapat mempunyai pola permintaan berulang.
Namun, usaha pendidikan tidak cukup mengandalkan promosi. Kompetensi pengajar, kualitas materi, metode pembelajaran, serta ketentuan sektoral perlu diperhatikan.
Jasa Digital
Semakin banyak pelaku usaha menggunakan kanal digital, semakin beragam pula kebutuhan terhadap jasa desain, pengelolaan media sosial, fotografi produk, website, pemasaran digital, dan administrasi tertentu.
Kelebihan sektor ini adalah modal fisik dapat relatif rendah. Sebaliknya, persaingan sangat terbuka sehingga keterampilan dan portofolio menjadi faktor penting.
Jasa Berbasis Kebutuhan Darurat
Sebagian usaha tidak mempunyai pembelian harian, tetapi dibutuhkan ketika masalah muncul.
Contohnya adalah reparasi elektronik, teknisi peralatan rumah tangga, tukang kunci, dan layanan perbaikan tertentu.
Keunggulannya terletak pada kebutuhan yang sulit ditunda. Namun, kepercayaan dan kemampuan menyelesaikan masalah menjadi faktor utama.
Tabel Perbandingan Usaha dengan Permintaan Berulang
| Jenis Usaha | Frekuensi Kebutuhan | Modal Relatif | Potensi Repeat Order | Risiko Utama | Ketergantungan Lokasi |
|---|---|---|---|---|---|
| Makanan dan minuman | Tinggi | Rendah–menengah | Tinggi | Bahan baku dan persaingan | Tinggi |
| Sembako | Tinggi | Menengah | Tinggi | Margin dan stok | Tinggi |
| Laundry | Tinggi/berkala | Menengah | Tinggi | Mesin dan operasional | Tinggi |
| Bengkel | Berkala | Menengah–tinggi | Tinggi | SDM dan peralatan | Tinggi |
| Barbershop/salon | Berkala | Menengah | Tinggi | Persaingan dan SDM | Menengah–tinggi |
| Kursus | Berkala | Rendah–menengah | Menengah–tinggi | Kompetensi dan pemasaran | Menengah |
| Jasa digital | Berkala | Rendah | Menengah–tinggi | Persaingan dan perubahan teknologi | Rendah |
| Reparasi | Tidak rutin tetapi dibutuhkan | Rendah–menengah | Menengah | Keahlian dan kepercayaan | Menengah |
Tabel tersebut bukan peringkat keuntungan. Karakteristik setiap usaha dapat berubah berdasarkan kota, lokasi, daya beli, kemampuan pengelola, dan tingkat persaingan.
Cara Memilih Usaha Sebelum Mengeluarkan Modal
Mulai dari Masalah Konsumen
Jangan memulai dari pertanyaan, “Usaha apa yang sedang ramai?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah, “Masalah apa yang sering dialami masyarakat di sekitar dan bersedia mereka bayar untuk diselesaikan?”
Pendekatan ini membuat pilihan usaha lebih dekat dengan kebutuhan nyata.
Hitung Frekuensi Pembelian
Pisahkan kebutuhan menjadi:
- harian;
- mingguan;
- bulanan;
- berkala;
- musiman;
- kebutuhan darurat.
Semakin sering kebutuhan muncul, semakin besar peluang terjadinya transaksi berulang, meskipun tetap tidak menjamin keuntungan.
Hitung Margin, Bukan Hanya Omzet
Secara sederhana:
Laba bersih = omzet − biaya barang/jasa − biaya operasional − biaya lainnya
Biaya dapat mencakup bahan baku, sewa, listrik, internet, transportasi, gaji, promosi, pajak, biaya platform, dan penyusutan peralatan.
Periksa Persaingan
Sebelum membuka usaha, amati:
- jumlah pesaing;
- harga;
- kualitas;
- lokasi;
- pelayanan;
- jam operasional;
- ulasan pelanggan;
- kelemahan pesaing yang dapat menjadi peluang.
Tujuannya bukan sekadar meniru kompetitor, tetapi mencari alasan mengapa konsumen akan memilih usaha baru.
Legalitas Usaha yang Perlu Dipahami
Aspek legalitas tidak dapat dipisahkan dari perencanaan bisnis.
PP No. 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko mengatur persyaratan dasar, Perizinan Berusaha, PB UMKU, layanan OSS, pengawasan, serta aspek terkait lainnya. PP ini berlaku sejak 5 Juni 2025 dan mencabut PP No. 5 Tahun 2021.
Kewajiban perizinan usaha ditentukan berdasarkan kegiatan usaha dan tingkat risikonya. Karena itu, calon pelaku usaha perlu menentukan kegiatan usaha dan KBLI yang sesuai, kemudian memeriksa persyaratan perizinannya melalui OSS.
Perizinan Berusaha menggunakan pendekatan berdasarkan risiko dari kegiatan usaha. Karena itu, pelaku usaha tidak seharusnya menganggap semua jenis bisnis memiliki persyaratan izin yang sama.
NIB dan OSS
Pelaku usaha mengakses sistem OSS untuk proses Perizinan Berusaha sesuai kegiatan yang dijalankan.
NIB penting dalam administrasi usaha, tetapi tidak tepat menyebut NIB sebagai satu-satunya “izin usaha”. Jenis legalitas dan pemenuhan persyaratan dapat berbeda sesuai kegiatan dan tingkat risikonya.
Rujukan Resmi
Informasi mengenai perizinan berusaha sebaiknya selalu diperiksa melalui sumber resmi karena persyaratan dapat berbeda sesuai kegiatan dan tingkat risiko usaha.
- JDIH BPK – PP No. 28 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko:
Baca PP No. 28 Tahun 2025 di JDIH BPK - OSS – Sistem Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik:
Akses Portal Resmi OSS
Pembaca dapat menggunakan kedua sumber tersebut untuk memeriksa ketentuan perizinan dan informasi terbaru sesuai kegiatan usaha yang akan atau sedang dijalankan.
Pentingnya KBLI
Pemilihan KBLI harus menggambarkan kegiatan usaha sebenarnya.
Portal OSS saat ini menggunakan KBLI 2025 dan menyediakan informasi mengenai ruang lingkup kegiatan, tingkat risiko, serta perizinan yang terkait dengan kegiatan tertentu. Pada halaman KBLI, misalnya, sistem dapat menampilkan PB UMKU yang berbeda sesuai jenis kegiatan.
Kesalahan memilih KBLI dapat membuat data usaha tidak sesuai dengan aktivitas yang sebenarnya. Karena itu, calon pelaku usaha sebaiknya memeriksa uraian kegiatan terlebih dahulu sebelum memilih kode.
Dasar Hukum UMKM
Untuk konteks UMKM, UU No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan salah satu dasar utama. Kerangka kemudahan, pelindungan, dan pemberdayaan UMKM juga diatur dalam PP No. 7 Tahun 2021, yang berstatus berlaku.
Peraturan tersebut menjadi bagian dari konteks kebijakan UMKM, tetapi pelaku usaha tetap perlu melihat aturan perizinan yang secara khusus berlaku terhadap kegiatan bisnisnya.
Syarat dan Dokumen Administrasi
Dokumen yang diperlukan dapat berbeda berdasarkan bentuk usaha dan kegiatan bisnis. Secara umum, calon pelaku usaha perlu menyiapkan:
- identitas pelaku usaha;
- data kontak;
- alamat usaha;
- lokasi kegiatan;
- informasi modal;
- jenis kegiatan usaha;
- KBLI yang sesuai;
- data produk atau jasa;
- dokumen tambahan sesuai tingkat risiko dan ketentuan sektoral.
Usaha tertentu dapat memerlukan dokumen tambahan terkait lokasi, lingkungan, standar usaha, produk, keamanan, kesehatan, atau ketentuan sektoral lainnya.
Karena itu, tidak tepat membuat satu daftar izin yang dianggap berlaku untuk semua jenis usaha.
Panduan Memulai Usaha dari Nol
Langkah 1: Tentukan Masalah Konsumen
Cari kebutuhan yang nyata, bukan sekadar tren.
Langkah 2: Tentukan Target Pasar
Identifikasi siapa calon pembeli, kemampuan belinya, kebiasaan belanja, serta lokasi mereka.
Langkah 3: Pilih Model Bisnis
Tentukan apakah bisnis menjual produk, jasa, berlangganan, pre-order, atau kombinasi beberapa model.
Langkah 4: Validasi Permintaan
Validasi dapat dilakukan melalui:
- wawancara calon pelanggan;
- observasi pesaing;
- survei sederhana;
- pre-order;
- penjualan dalam skala kecil.
Tujuannya adalah mengetahui apakah orang benar-benar bersedia membayar.
Langkah 5: Hitung Modal
Pisahkan modal menjadi peralatan, stok, sewa, legalitas, pemasaran, dan modal kerja.
Langkah 6: Tentukan Harga
Harga harus mempertimbangkan biaya dan daya beli pasar.
Jangan menetapkan harga hanya karena mengikuti kompetitor.
Langkah 7: Periksa Legalitas
Tentukan KBLI dan cek kewajiban Perizinan Berusaha berdasarkan kegiatan serta tingkat risiko.
Langkah 8: Mulai dalam Skala Terkendali
Tidak semua bisnis harus langsung memiliki toko besar atau peralatan mahal.
Uji pasar terlebih dahulu apabila model bisnis memungkinkan.
Langkah 9: Ukur Hasil
Pantau:
- jumlah pelanggan;
- repeat order;
- omzet;
- laba bersih;
- biaya operasional;
- stok;
- arus kas.
Alur Singkat
Identifikasi kebutuhan → riset pasar → pilih usaha → hitung modal dan margin → cek kompetitor → tentukan KBLI → cek legalitas → uji pasar → evaluasi penjualan → pertahankan pelanggan → kembangkan usaha
Alur tersebut menunjukkan bahwa memulai bisnis bukan sekadar menentukan jenis usaha. Ada proses validasi ekonomi dan administratif yang perlu dilakukan sebelum modal diperbesar.
Estimasi Modal dan Biaya Memulai Usaha
Tidak ada satu angka modal yang dapat berlaku untuk seluruh jenis usaha.
Biaya sangat bergantung pada lokasi, skala, peralatan, model bisnis, jumlah stok, tenaga kerja, dan kegiatan usaha.
| Komponen | Contoh | Sifat Biaya |
|---|---|---|
| Peralatan | Mesin, komputer, etalase | Awal/investasi |
| Bahan baku | Makanan, deterjen, bahan produksi | Operasional |
| Sewa | Tempat usaha | Berkala |
| Tenaga kerja | Gaji/upah | Operasional |
| Legalitas | Administrasi/layanan tertentu | Tergantung kegiatan |
| Pemasaran | Iklan, konten, promosi | Opsional/operasional |
| Modal kerja | Dana untuk menjalankan usaha | Sangat penting |
| Dana cadangan | Mengantisipasi penurunan penjualan | Disarankan |
Biaya resmi pemerintah perlu dibedakan dari biaya jasa profesional atau biaya operasional. Tidak semua proses legalitas dikenakan biaya yang sama, dan sebagian kebutuhan administrasi bergantung pada kegiatan usaha.
Mengapa Modal Kerja Penting?
Banyak usaha gagal bukan karena produknya tidak laku, tetapi karena kehabisan uang tunai sebelum siklus penerimaan berikutnya.
Misalnya, usaha harus membeli bahan baku hari ini, membayar sewa dan tenaga kerja secara berkala, sementara sebagian pelanggan membayar belakangan.
Karena itu, modal awal sebaiknya tidak seluruhnya dihabiskan untuk peralatan atau renovasi.
Berapa Lama Usaha Bisa Mulai Berjalan?
Waktu yang diperlukan berbeda antara satu bisnis dengan bisnis lainnya.
Ada usaha yang dapat dimulai dari rumah dengan persiapan relatif singkat. Ada pula usaha yang membutuhkan tempat, peralatan, tenaga kerja, persyaratan teknis, atau pemenuhan ketentuan sektoral sebelum beroperasi.
Karena itu, perlu dibedakan antara waktu menyelesaikan administrasi dan waktu sampai usaha siap melayani pelanggan.
Usaha dapat memiliki administrasi yang relatif cepat tetapi belum siap beroperasi karena lokasi, peralatan, pemasok, atau persyaratan teknis belum terpenuhi.
Risiko Usaha yang Disebut “Tidak Pernah Sepi”
Salah Memahami Istilah “Tidak Pernah Sepi”
Tidak ada model bisnis yang bebas dari penurunan permintaan.
Omzet Tinggi tetapi Laba Rendah
Harga jual yang tinggi tidak berarti keuntungan tinggi apabila biaya produksi dan operasional juga besar.
Modal Habis untuk Stok
Stok yang terlalu besar dapat menghambat arus kas.
Ketergantungan pada Lokasi
Usaha yang sangat bergantung pada lalu lintas konsumen dapat terdampak apabila kondisi kawasan berubah.
Persaingan Harga
Menurunkan harga secara terus-menerus dapat menggerus margin.
Ketergantungan pada Satu Platform
Usaha digital yang hanya bergantung pada satu marketplace atau media sosial menghadapi risiko apabila algoritma, biaya, atau kebijakan platform berubah.
Legalitas Tidak Sesuai
Kegiatan usaha yang tidak sesuai dengan data atau perizinannya dapat menimbulkan persoalan administratif dan hukum.
Cara Mengatasi Usaha yang Mulai Sepi
Ketika penjualan menurun, jangan langsung menyimpulkan bahwa produknya sudah tidak dibutuhkan.
Periksa terlebih dahulu:
- Apakah harga masih kompetitif?
- Apakah kualitas menurun?
- Apakah lokasi atau akses berubah?
- Apakah pelanggan lama tidak kembali?
- Apakah pesaing menawarkan sesuatu yang lebih baik?
- Apakah promosi sudah tidak efektif?
- Apakah produk masih sesuai kebutuhan pasar?
Setelah penyebab ditemukan, barulah strategi diperbaiki.
Strategi dapat berupa peningkatan kualitas, penyesuaian produk, perbaikan pelayanan, penguatan pelanggan lama, penambahan kanal penjualan, atau efisiensi biaya.
Diskon juga perlu digunakan secara hati-hati. Penjualan meningkat belum tentu menguntungkan apabila harga promosi berada di bawah biaya yang seharusnya ditanggung usaha.
Strategi Agar Pelanggan Kembali
Pelanggan berulang merupakan salah satu aset penting dalam bisnis.
Untuk mempertahankannya, pelaku usaha dapat:
- menjaga kualitas;
- memberikan harga yang transparan;
- memenuhi janji waktu;
- menangani komplain secara profesional;
- menyediakan produk yang konsisten;
- membuat program loyalitas yang masuk akal;
- mengingat preferensi pelanggan secara bertanggung jawab;
- meminta umpan balik;
- memperbaiki kelemahan berdasarkan keluhan.
Tujuannya bukan membuat konsumen membeli sebanyak mungkin, melainkan membangun alasan yang kuat agar mereka memilih kembali.
Kesalahan yang Sering Dilakukan Pemula
Beberapa kesalahan yang perlu dihindari antara lain:
- memilih usaha hanya karena sedang viral;
- menghabiskan seluruh modal untuk renovasi;
- tidak menghitung harga pokok;
- mencampur uang pribadi dengan uang usaha;
- tidak mencatat transaksi;
- mengabaikan modal kerja;
- meniru kompetitor tanpa diferensiasi;
- menganggap omzet sebagai keuntungan;
- tidak melakukan validasi pasar;
- mengabaikan legalitas;
- memilih KBLI yang tidak sesuai kegiatan;
- terlalu cepat menambah cabang sebelum model bisnis terbukti.
Contoh Simulasi Sederhana
Misalnya seseorang ingin membuka laundry kecil.
Modal awal digunakan untuk mesin, peralatan, perlengkapan, sewa, dan modal kerja. Setelah beroperasi, pemilik mencatat jumlah kilogram cucian setiap hari.
Misalnya harga rata-rata jasa adalah Rp8.000 per kilogram dan rata-rata volume mencapai 40 kilogram per hari.
Omzet kotor teoritis:
40 kg × Rp8.000 = Rp320.000 per hari
Jika beroperasi 26 hari dalam sebulan:
Rp320.000 × 26 = Rp8.320.000 per bulan
Namun angka tersebut bukan laba.
Pemilik masih harus menghitung listrik, air, deterjen, pewangi, kemasan, sewa, tenaga kerja, perawatan mesin, transportasi, pajak atau kewajiban terkait, serta biaya lain.
Contoh ini menunjukkan mengapa istilah “usaha yang ramai” tidak cukup untuk menentukan kelayakan bisnis.
Bagaimana Menentukan Usaha Berdasarkan Modal?
Modal Relatif Kecil
Model yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- jasa berbasis keterampilan;
- pre-order;
- usaha rumahan;
- perdagangan dengan stok terbatas;
- jasa digital.
Keunggulannya adalah risiko investasi fisik dapat lebih rendah.
Modal Menengah
Pilihan dapat mencakup:
- laundry;
- kuliner;
- toko kebutuhan harian;
- jasa perawatan;
- usaha produksi skala kecil.
Modal Lebih Besar
Pilihan dapat mencakup:
- bengkel;
- distribusi;
- produksi;
- usaha dengan peralatan khusus;
- model kemitraan atau waralaba.
Namun, modal besar tidak otomatis menghasilkan laba besar. Semakin besar investasi, semakin penting perhitungan kapasitas pasar dan arus kas.
Analisis Penulis
Pertanyaan “usaha apa yang tidak pernah sepi?” sebenarnya kurang tepat jika digunakan sebagai dasar utama mengambil keputusan bisnis.
Tidak ada pelaku usaha yang dapat menjamin sebuah bisnis akan selalu ramai. Pasar bergerak mengikuti pendapatan masyarakat, teknologi, persaingan, lokasi, harga, kebijakan, dan perubahan perilaku konsumen.
Pertanyaan yang lebih sehat adalah: “usaha apa yang menyelesaikan kebutuhan berulang dan dapat dikelola secara menguntungkan?”
Perbedaan tersebut penting.
Usaha makanan dapat memiliki pelanggan setiap hari, tetapi apabila biaya bahan baku terlalu tinggi dan banyak produk terbuang, keramaian belum tentu menghasilkan keuntungan. Sebaliknya, usaha jasa yang pelanggan datang lebih jarang dapat tetap sehat apabila margin cukup dan pelanggan kembali secara berkala.
Dengan demikian, keberlanjutan bisnis setidaknya dapat dilihat melalui rantai:
kebutuhan → permintaan → transaksi → margin → pelanggan kembali → arus kas → keberlanjutan.
Di sinilah calon pengusaha perlu mengubah cara berpikir dari “mencari usaha yang tidak pernah sepi” menjadi “membangun usaha yang tetap relevan ketika pasar berubah.”
Usaha sederhana yang dibutuhkan masyarakat secara konsisten dapat lebih sehat daripada bisnis yang ramai karena tren sesaat.
Hal lain yang sering diabaikan adalah kemampuan pemilik. Dua orang dapat membuka jenis usaha yang sama, tetapi hasilnya berbeda karena kemampuan mengelola stok, melayani pelanggan, mengendalikan biaya, memilih lokasi, dan membangun kepercayaan tidak sama.
Karena itu, jenis usaha sebaiknya mempertemukan tiga hal: kebutuhan pasar, kemampuan pengelola, dan model ekonomi yang masuk akal.
Legalitas juga bukan sekadar formalitas. Pelaku usaha perlu memastikan kegiatan yang dijalankan sesuai dengan klasifikasi dan persyaratan yang berlaku. Dalam sistem Perizinan Berusaha Berbasis Risiko, tingkat risiko kegiatan ikut menentukan kewajiban yang harus dipenuhi.
Pada akhirnya, usaha yang “tidak pernah sepi” bukanlah usaha yang tidak pernah mengalami penurunan penjualan. Usaha yang lebih layak disebut tahan banting adalah usaha yang memiliki kebutuhan pasar yang jelas, pelanggan yang dapat kembali, margin yang sehat, arus kas yang terjaga, serta kemampuan beradaptasi.
FAQ Usaha yang Tidak Pernah Sepi

Apa usaha yang tidak pernah sepi?
Tidak ada usaha yang dapat dijamin selalu ramai. Namun, usaha yang menyediakan kebutuhan berulang seperti makanan, kebutuhan rumah tangga, laundry, perawatan kendaraan, dan berbagai jasa rutin dapat memiliki peluang permintaan yang relatif stabil.
Usaha apa yang cocok dengan modal kecil?
Usaha jasa, pre-order, usaha rumahan, perdagangan dengan stok terbatas, dan jasa digital dapat menjadi pilihan karena kebutuhan modal fisiknya dapat relatif rendah.
Tetap diperlukan perhitungan pasar dan kemampuan pengelola.
Apakah usaha makanan selalu ramai?
Tidak. Makanan merupakan kebutuhan rutin, tetapi suatu usaha makanan tetap dapat sepi karena lokasi, harga, kualitas, pelayanan, persaingan, atau perubahan daya beli.
Apakah usaha online lebih menjanjikan daripada usaha offline?
Tidak ada jawaban universal. Keunggulan online dan offline bergantung pada karakter produk, target pelanggan, biaya, lokasi, dan model bisnis.
Bagaimana mengetahui usaha yang dibutuhkan masyarakat sekitar?
Lakukan observasi, wawancara calon pelanggan, survei sederhana, analisis kompetitor, dan uji penjualan dalam skala kecil.
Apakah usaha kecil perlu memperhatikan legalitas?
Ya. Kewajiban Perizinan Berusaha perlu dilihat berdasarkan kegiatan usaha dan tingkat risikonya. PP No. 28 Tahun 2025 mengatur penyelenggaraan Perizinan Berusaha Berbasis Risiko melalui kerangka OSS.
Apakah semua usaha memerlukan izin yang sama?
Tidak. Kegiatan usaha yang berbeda dapat mempunyai klasifikasi, tingkat risiko, dan persyaratan yang berbeda. Portal OSS menampilkan ruang lingkup serta kewajiban berdasarkan kegiatan dan KBLI yang dipilih.
Bagaimana memilih KBLI yang tepat?
Pilih kode yang paling sesuai dengan kegiatan usaha sebenarnya, bukan sekadar berdasarkan nama usaha. Periksa uraian kegiatan pada OSS dan lihat ruang lingkup serta kewajiban yang terkait.
Berapa modal ideal untuk memulai usaha?
Tidak ada angka yang berlaku untuk semua usaha. Modal harus dihitung berdasarkan kebutuhan peralatan, stok, tempat, legalitas, pemasaran, biaya operasional, dan modal kerja.
Bagaimana menghitung keuntungan usaha?
Mulailah dengan menghitung omzet, kemudian kurangi biaya barang atau jasa, biaya operasional, dan biaya lainnya. Hasil akhirnya adalah laba yang lebih realistis dibandingkan hanya melihat omzet.
Apa yang harus dilakukan jika usaha mulai sepi?
Cari penyebabnya terlebih dahulu. Evaluasi produk, harga, kualitas, lokasi, pelayanan, persaingan, pemasaran, dan pelanggan lama sebelum menentukan strategi perbaikan.
Kesimpulan
Tidak ada usaha yang benar-benar dapat dijamin tidak pernah sepi. Istilah tersebut lebih tepat digunakan untuk menggambarkan usaha yang memiliki kebutuhan berulang dan pasar yang relatif stabil.
Makanan, sembako, laundry, perawatan kendaraan, jasa perawatan pribadi, pendidikan, jasa digital, dan layanan perbaikan merupakan beberapa contoh sektor yang dapat mempunyai permintaan berulang. Namun, peluang tersebut tetap dipengaruhi lokasi, daya beli, persaingan, kemampuan pengelola, harga, kualitas, dan biaya operasional.
Sebelum mengeluarkan modal, calon pengusaha sebaiknya melakukan riset pasar, menghitung margin, menyiapkan modal kerja, menguji permintaan, dan memahami kewajiban legalitas. Perizinan Berusaha juga perlu disesuaikan dengan kegiatan dan tingkat risiko berdasarkan ketentuan yang berlaku.
Pada akhirnya, tujuan yang lebih realistis bukan mencari usaha yang tidak pernah sepi, melainkan membangun usaha yang dibutuhkan, menguntungkan, legal, memiliki pelanggan berulang, dan mampu beradaptasi ketika kondisi pasar berubah.
Disclaimer
Artikel ini bertujuan untuk edukasi dan informasi umum, bukan pengganti konsultasi resmi dengan konsultan bisnis, akuntan, notaris, ahli hukum, atau instansi pemerintah yang berwenang. Contoh modal, omzet, biaya, dan perhitungan dalam artikel merupakan ilustrasi dan bukan jaminan keuntungan. Ketentuan Perizinan Berusaha dapat berbeda sesuai kegiatan, lokasi, tingkat risiko, dan regulasi sektoral yang berlaku. Pembaca disarankan memeriksa informasi terbaru melalui kanal resmi pemerintah sebelum memulai atau mengembangkan usaha.
Baca Juga
- Ide Bisnis Modal Kecil Untung Besar yang Cocok untuk Pemula
- Mengenal Investasi Reksadana: Panduan Cepat untuk Pemula yang Takut Rugi
- Panduan Biaya Membeli Rumah: DP, Pajak, KPR, dan Notaris
- KPR atau Kontrak? Panduan Memilih Rumah yang Tepat
- Cara Mengurus Roya Setelah KPR Lunas: Syarat dan Prosedur
Penulis: Handry N Yudanegara

Handry N. Yudanegara adalah jurnalis Aksi yang aktif sejak 2021 dan tergabung dalam Jurnalis Bela Negara (JBN). Berpengalaman di media majalah dan digital, ia fokus meliput isu ekonomi, nasional, regional dan industri kreatif.






